#israel#palestina#who

WHO Minta Akses Obat-obatan untuk Warga Palestina Tanpa Gangguan

WHO Minta Akses Obat-obatan untuk Warga Palestina Tanpa Gangguan
Ekskavator membersihkan puing sebuah bangunan yang hancur terkena serangan udara Israel di kota Gaza pada Minggu, 16 Mei 2021. AFP/MOHAMMED ABED


Jenewa (Lampost.co) -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan akses tanpa gangguan ke Jalur Gaza untuk menyalurkan obat-obatan dan penanganan medis bagi masyarakat Palestina yang terluka dalam pertempuran antara pasukan Israel dan kelompok Hamas. Aksi saling serang antarkedua kubu telah menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya, serta merusak banyak infrastruktur.
 
WHO mengatakan 30 fasilitas kesehatan di Gaza telah rusak, termasuk klinik utama Al-Shawa. Saat ini Gaza diestimasi hanya memiliki sekitar 46 persen obat-obatan esensial dan 33 persen pasokan medis.
 
Sejumlah staf WHO yang belakangan ini mengunjungi Gaza mengingatkan bahwa kerusakan infrastruktur pembuangan telah memicu penumpukan air limbah yang dibuang ke laut. WHO menegaskan, hal tersebut dapat memicu krisis kesehatan dan polusi lingkungan.

Baca: Bantuan Kemanusiaan Mulai Masuk ke Jalur Gaza

 

Juru bicara WHO Fadela Chaib mengatakan, perlintasan perbatasan antara Israel dan Gaza harus dibuka agar akses bantuan kemanusiaan dapat disalurkan ke wilayah Palestina.
 
"Kami menyerukan akses tanpa gangguan untuk penyaluran bantuan kemanusiaan dan pasokan barang-barang esensial ke Gaza. Kami juga menyerukan pembukaan akses bagi pasien rujukan agar bisa keluar dari Gaza," ucap Chaib, dilansir dari laman Voice of America pada Sabtu, 29 Mei 2021.
 
"Saat ini ada sekitar 600 pasien rujukan yang tidak bisa keluar karena penutupan perlintasan," sambungnya.
 
Chaib mengatakan 600 orang itu perlu dirawat di rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap di luar Gaza. Sebagian dari 600 pasien itu adalah penderita kanker dan mereka yang terluka dalam pertempuran kemarin.
 
Mengenai pasokan medis untuk Gaza, WHO juga menyerukan penggalangan dana hingga USD7 juta hingga enam bulan ke depan.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait