#Covid-19Indonesia#vaksin

WHO Kritik Kebijakan Vaksinasi Berbayar di Indonesia

WHO Kritik Kebijakan Vaksinasi Berbayar di Indonesia
Bahan baku vaksin Sinovac tiba di Indonesia, Minggu, 18 April 2021. Foto: BPMI


Jenewa (Lampost.co) -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkritik kebijakan Vaksinasi Gotong Royong berbayar dari pemerintah Indonesia. WHO mengingatkan setiap warga negara harus meraih peluang yang sama untuk mendapatkan vaksin covid-19.

"Pembayaran apa pun dapat menimbulkan masalah etika dan akses, khususnya selama pandemi ketika kita membutuhkan cakupan vaksinasi dan vaksin untuk menjangkau pihak yang paling rentan," ucap Direktur Program Khusus Imunisasi WHO Ann Lindstrand dalam situs WHO, Kamis, 15 Juli 2021.

Menurut dia, Indonesia mendapatkan dosis vaksin dari inisiatif COVAX-AMC. Setidaknya, Indonesia memiliki akses vaksin gratis untuk 20 persen populasi yang didanai penyandang dana kerja sama COVAX. 

"Hal ini yang membuatnya sama sekali tidak mungkin untuk memungut pembayaran dalam perjalanannya," imbuh Lindstrand.

Lindstrand mengakui ada dana pengiriman vaksin, seperti transportasi, logistik, dan peralatan rantai dingin. Namun, ada pendanaan yang tersedia untuk semua negara COVAX AMC melalui Bank Pembangunan Multilateral, Bank Dunia, dan Open Window.

"Setiap orang memiliki hak dan harus memiliki hak akses ke vaksin ini terlepas dari masalah keuangan," ungkap Lindstrand.

Sementara itu, Direktur Kedaruratan WHO Mike Ryan menyoroti angka covid-19 yang melonjak di Indonesia. Dia mengkhawatirkan kondisi ini.

"Indonesia sedang mengalami fase peningkatan penularan yang sangat intens selama beberapa minggu terakhir. Faktanya di Asia Tenggara hampir melebihi jumlah kematian harian yang dimiliki India dan mungkin akan melebihi insiden hariannya sehingga kami telah melihat peningkatan kasus sebesar 44 persen selama seminggu terakhir dan peningkatan kematian sebesar 71 persen," ujar Ryan.

Dr Ryan tidak meragukan lagi Indonesia menghadapi situasi sulit. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, kata dia, sudah mengadakan pertemuan dengan pejabat senior Indonesia untuk membahas situasi dan melihat apa yang bisa dilakukan WHO.

Dia menerangkan peningkatan kasus yang didorong varian baru mengakibatkan sejumlah besar kematian setiap hari. Banyak dari kematian itu terjadi pada orang yang rentan dan orang tua.

"Kita harus jauh lebih maju dengan vaksinasi dan Indonesia seharusnya memiliki lebih banyak akses ke vaksin melalui inisiatif seperti  COVAX," tutur Ryan.

Vaksinasi

Demi memenuhi target berangsur hingga mencapai juta per satu hari, pemerintah menawarkan program Vaksinasi Gotong Royong Individu. Namun, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menunda jadwal vaksinasi itu yang semula dimulai Senin, 12 Juli 2021.

"Kami tunda hingga pemberitahuan selanjutnya," kata Sekretaris Kimia Farma Ganti Winarno dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Senin, 12 Juli 2021.

Alasan penundaan karena besarnya animo dari masyarakat. Selain itu, Kimia Farma akan menyosialisasikan lebih mendalam mengenai vaksinasi berbayar ini.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait