#editorial#abdulkohar

Waspadai Lonjakan Kasus di Sumatra

Waspadai Lonjakan Kasus di Sumatra
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.


Jakarta (Lampost) -- Sudah setahun lebih pandemi covid-19 melanda negeri ini. Secara umum angkanya memang melandai, tapi bukan berarti virus ini mereda. Setelah sebelumnya Jawa menjadi episentrum, kini penyebarannya mulai bergeser ke Sumatra.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, sebelumnya Sumatra umumnya hanya memberikan kontribusi kurang dari 20% pada angka kasus nasional. Akan tetapi, dalam 1,5 bulan terakhir, angkanya meningkat signifikan menjadi 27,22% pada Mei 2021 jika dibandingkan dengan di Januari 2021. Padahal, di Jawa, angka kontribusinya pada kasus nasional kini hanya tinggal 11,06% dari yang sebelumnya 60%-70%.

Sumbangan Sumatra untuk angka kematian tingkat nasional juga mulai naik. Awalnya Sumatra menyumbangkan kasus dengan angka rata-rata di bawah 20% dari keseluruhan kasus kematian di tingkat nasional. Namun, dalam 1,5 bulan terakhir, angka kematian di Sumatra naik hingga 17,18% bila dibandingkan dengan pada Januari.

Kenaikan angka covid-19 di Sumatra harus menjadi perhatian serius. Sebab, pada Februari dan Maret, tak ada satu pun provinsi di Sumatra yang masuk 10 besar kontributor kasus tertinggi covid-19 tingkat nasional. Namun, sejak April, 5 provinsi di Sumatra mulai masuk 10 provinsi kontributor kasus tertinggi nasional. Kelima provinsi itu ialah Riau, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau dan Sumatra Selatan.

Pulau Sumatra menjadi episentrum baru covid-19 berkorelasi erat dengan peningkatan arus mudik sebelum pemerintah resmi melarang mudik pada 6-17 Mei. Total seluruh kendaraan yang menyeberang ke Sumatra sebelum pelarangan mudik naik 212% bila dibandingkan dengan di periode sama tahun lalu.

Karena itu, pemerintah berencana memeriksa secara ketat dokumen kesehatan ribuan pemudik saat arus balik. Kementerian Perhubungan akan mewajibkan para pemudik dari Sumatra yang ingin kembali ke Jabodetabek melalui Pelabuhan Merak, Banten, memiliki surat keterangan bebas covid-19.

Mereka terlebih dahulu wajib tes rapid antigen atau GeNose di pintu Pelabuhan Bakaheuni, Lampung. Kita tentu mendukung langkah ini. Penelusuran kasus, salah satunya melalui tes, adalah langkah penting untuk memutus penyebaran virus korona. Ini tidak boleh dilakukan main-main, apalagi pakai katebelece.

Oleh karena itu, perlu ketegasan petugas di lapangan. Mereka tidak boleh meloloskan pemudik yang kedapatan positif covid hanya demi duit. Tak hanya di Sumatra. Di daerah-daerah lain, pemudik juga wajib mengantongi surat bebas covid sebagai syarat balik mudik.

Peningkatan kasus di Sumatra tentu tidak boleh dipandang sebelah mata. Apalagi, menurut Kementerian Kesehatan, beberapa varian baru virus korona, terutama dari India yang tergolong ganas, ditemukan di Pulau Andalas dan juga Kalimantan Tengah. Pemerintah, dalam hal ini Kemenkes, kini sedang menelusuri pengurutan keseluruhan genom virus tersebut (genome sequencing) agar tidak menyebar ke wilayah atau daerah lain. 

Meski begitu, masyarakat tak perlu panik. Hal terpenting ialah tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. Jangan sering keluar rumah jika tidak ada aktivitas penting. Usahakan menjaga jarak dan sering mencuci tangan.

Sudah lebih dari setahun kita berperang melawan pandemi ini. Sejauh ini telah banyak korban berguguran, mulai petugas kesehatan hingga masyarakat biasa. Menurut data Tim Satgas Penanganan Covid-19, hingga 12 Mei 2021, jumlah yang meninggal mencapai 47.617 orang. Pengorbanan yang telah kita lakukan selama ini, baik yang dilakukan masyarakat maupun pemerintah, jangan sampai sia-sia. 

Angka kasus positif yang mulai melandai dalam beberapa bulan terakhir, jangan sampai kembali melonjak seperti di negara lain. Butuh kesabaran, kedisiplinan, dan kehati-hatian ekstra dalam menghadapi wabah ini. Tidak hanya di Sumatra, tapi juga di daerah-daerah lainnya.

Para kepala daerah, dari gubernur hingga tingkat akar rumput di lingkup RT/RW, jangan pernah segan mengimbau warganya untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. Begitu juga para tokoh serta pemuka agama. Kita semua perlu bahu-membahu dan melibatkan semua pihak untuk menerapkan taktik perang semesta dalam menghadapi wabah ini.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait