#covid-19#korona

Waspada Varian Baru Covid-19 Bisa Lebih Galak dari Delta

Waspada Varian Baru Covid-19 Bisa Lebih Galak dari Delta
Covid-19. Ilustrasi


Jakarta (Lampost.co) -- Varian terbaru covid-19 ditemukan di Botswana. Peneliti menyebut varian yang dilabeli B.1.1.529 berpotensi sangat berbahaya dan mengkhawatirkan. 

Varian B.1.1.529 ini memiliki 32 mutasi pada spike protein. Peneliti menjelaskan mutasi itu memengaruhi kemampuan virus dalam menginfeksi dan menyebar, serta menghambat sel kekebalan tubuh untuk bertahan dari virus.  

"Jumlah mutasi yang sangat banyak di spike protein-nya harus menjadi perhatian utama," kata ahli virologis dari Imperial College London, Tom Peacock, dikutip dari The Guardian, Kamis, 25 November 2021. 

Peacock bahkan membandingkan varian terbaru yang ditemukan pertama kali di Botswana itu dengan varian Delta. Pasalnya, varian Delta yang saat ini menjadi varian terbanyak di dunia punya 16 mutasi spike protein. 

"Sangat, sangat banyak yang harus dipantau karena profil spike protein yang mengerikan itu," ucap Peacock. 

Profesor mikrobiologi klinis di Universitas Cambridge, Ravi Gupta, mengungkapkan mutasi pada varian B.1.1.529 dapat meningkatkan inefektivitas antibodi. Mutasi ini menyebabkan virus sulit dikenali antibodi tubuh. 

"Satu poin penting yang belum diketahui, yakni tingkat infeksinya. Poin ini yang sangat memengaruhi penyebaran varian Delta. Sedangkan kemampuan menghindari sistem kekebalan tubuh hanya menggambarkan tentang apa yang mungkin terjadi," ujar Gupta.  

Sementara itu, Direktur Institut Genetika UCL Profesor Francois Balloux menduga, varian B.1.1.529 berkembang saat fase infeksi kronis pasien covid-19 dengan sistem imun lemah. Namun, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena belum terdapat laporan ledakan kasus akibat varian tersebut. 

"Untuk saat ini harus dipantau dan dianalisis secara ketat, tetapi tidak ada alasan untuk terlalu khawatir, kecuali jika frekuensinya mulai meningkat dalam waktu dekat," ucap Balloux. 

Saat ini, kasus varian covid-19 B.1.1.529 baru ditemukan di tiga wilayah, yakni Botswana, Afrika Selatan, dan Hong Kong. Sebanyak 10 kasus ditemukan melalui metode whole genome sequencing (WGS).  

Kasus paling awal ditemukan di Botswana sebanyak tiga kasus pada 11 November 2021. Tiga hari kemudian, enam kasus ditemukan di Afrika Selatan. Sementara, satu kasus di Hongkong ditemukan pada 23 Oktober terhadap seseorang yang baru saja pulang dari Afrika Selatan. 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait