#asusila#kriminal#kekerasanseksual#beritalampung

Warga Pasir Gintung Pelaku Pencabulan Divonis 7 Tahun Penjara

( kata)
Warga Pasir Gintung Pelaku Pencabulan Divonis 7 Tahun Penjara
Suasana persidangan kasus pemerkosaan di PN Kelas IA Tanjungkarang. Lampost.co/Salda Andala


Bandar Lampung (Lampost.co): Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang memvonis terdakwa pencabulan atas nama Eko Mardiansyah (28) warga Jalan Mangga RT/RW 003/000, Kelurahan Pasir Gintung, Kecamatan Tanjungkarang Barat dengan pidana penjara selama 7 tahun, dalam sidang vonis, Senin, 31 Agustus 2020.

Hakim Ketua Hendro Wicaksono mengatakan perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana sesuai dengan Pasal 285 KUHP. "Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Eko Mardiansyah dengan pidana penjara selama 7 tahun," kata Hakim.

Hakim dalam putusannya mengatakan perbuatan terdakwa berawal pada 29 Februari 2020. Korban mengirim terdakwa pesan melalui WhatsApp dan menagih utang sebesar Rp500 ribu yang terdakwa pinjam dari korban.

"Terdakwa menjawab bahwa terdakwa belum memiliki uang," kata Hakim.

Sekitar pukul 18.30 WIB, terdakwa menelepon saksi korban dan berkata "Teh temenin nagih yuk. Kalau nggak sama teteh dia nggak mau ngasih,". Korban pun menjawab "dimana nagihnya" kata korban "didekat rumah teteh," kata terdakwa. "Besok saja sih udah malam," jawab korban.

"Malam ini aja teh soalnya kalau besok dia pergi karena dia sopir," kata terdakwa. "Ya sudah jemput aja," jawab korban.

Kemudian terdakwa menjemput saksi korban di daerah Susunan Baru. Setelah terdakwa bertemu dengan saksi korban, kemudian terdakwa langsung membonceng saksi korban mengendarai sepeda motor Honda Beat warna merah putih ke rumah terdakwa. Pada saat di perjalanan terdakwa berbicara kepada saksi korban.

"Mampir dulu teh ke rumah sebentar," kata terdakwa. Kemudian terdakwa dan saksi korban masuk ke dalam rumah.

Terdakwa mengajak saksi korban ke lantai bawah. Di situ terdakwa langsung mengancam korban untuk melayani nafsu bejatnya dengan sebilah pisau.

Sebelum melakukan hubungan layaknya suami istri, terdakwa sempat merekam adegan yang keduanya lakukan dengan ponsel milik terdakwa. Korban sempat berkata untuk tidak merekam aksi asusila itu, namun terdakwa tetap merekamnya.

Penasehat hukum terdakwa, Putri Septia, menyatakan pikir-pikir karena harus bertemu terdakwa dan keluarganya.

Menurutnya putusan tersebut terlalu berat untuk terdakwa, lantaran pencabulan itu terjadi atas motif suka sama suka. 

"Kalau kita lihat belum sesuai. Kita akan membela kepentingan hak terdakwa menurut kami terlalu berat untuk terdakwa. Kalau di keterangan sidang itu unsur suka sama suka dan utang piutang, itu masih ada hubungan kaluarga," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...


Berita Terkait



Komentar