#hidroponik#beritalampung#ekbis#pertanian

Warga Natar Kembangkan Hidroponik IndoorAla Jepang

Warga Natar Kembangkan Hidroponik <i>Indoor</i>Ala Jepang
Willy sedang mengecek tanaman sayur jenis kale. Lampost.co/Setiaji Bintang Pamungkas


Kalianda (Lampost.co): Musim hujan seperti saat ini tentu akan berdampak pada pertumbuhan tanaman sayur. Sebab, sinar yang dihasilkan matahari sangat dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis secara maksimal. Namun, hal itu tidak lagi dirasakan oleh Willy salah satu praktisi hidroponik di Lampung.

Willy mengatakan pertumbuhan sayur baik dengan hidroponik maupun konvensional akan terganggu jika minim sinar matahari. Apalagi diawal pertumbuhan.

“Sinar itu penting untuk tanaman. Apalagi di masa golden age yaitu usia 0-3 hari sejak sprout (pecah benih), maka harus dikenakan sinar matahari,” kata dia, saat ditemui di kediamannya di Natar, Lampung Selatan, Minggu, 23 November 2020.

Namun, ketika cuaca kerap mendung, pertumbuhan benih akan terganggu atau disebut etiolasi akibat kurang terpapar sinar matahari. Sehingga, Willy menyiasatinya dengan penerangan menggunakan sinar lampu LED sebagai pengganti cahaya matahari. Instalasi hidroponik dengan sinar LED itu, ia tempatkan di ruangan tertutup.

Alasan Wily menempatkan tanaman hidroponiknya di ruang tertutup agar terlindung dari serangan hama.

“Saya juga sempat kewalahan menghadapi hama. Maka saya coba tanam indoor.  Tapi masih bisa tembus hama aphids walau sangat sedikit dibanding outdoor. Setidaknya bisa diminimalkan,” kata dia.  

Menurutnya, metode penanaman di dalam ruangan sangat efektif. Intensitas sinar yang dibutuhkan untuk tanaman juga maksimal dan konsisten.

“Menanam di dalam ruangan juga menghemat air dan nutrisi. Karena penguapannya sedikit,” ungkap dia. 

Padahal, lanjut dia, kebutuhan sinar untuk tanaman sebesar 15 ribu lux. Sinar itu didapat saat cuaca sedang cerah. Tetapi, ketika mendung, sinar yang dihasilkan di luar ruangan hanya sebesar 1.000 lux (pancar cahaya). 

"Standar hidup si tanaman dia butuh 15 ribu lux per hari, " kata Willy.

Kelebihan lain berhidroponik di dalam ruangan yakni tanaman tumbuh seragam. Intensitas cahaya yang stabil juga membuat warna daun menjadi lebih pekat dan cantik.

"Empat hal yang dibutuhkan tanaman yakni cahaya stabil, PPM atau kepekatan nutrisi stabil, suhu stabil, dan kelembaban juga stabil. Jika unsur yang dibutuhkan tanaman itu sudah aman, maka pertumbuhan menjadi baik," ujarnya.

Melalui tangan dinginnya, Wily membuat susunan rak menjadi tiga tingkat. Tiap tingkatan berjarak 40 cm.  Masing-masing tingkatan disinari lampu LED T5 sebanyak 5 baris. Ia mengusahakan agar tanaman mendapatkan sinar sebesar 15 ribu lux. Sementara, untuk memutari air menggunakan pompa 7 watt di tiap tingkatnya.

Eksperimen yang dilakukan cukup membuahkan hasil. Tanaman sayur jenis kale milik Willy tumbuh subur di instalasi hidroponik indoor buatannya.

Ia berharap masyarakat bisa berani menanam sayur dengan sistem hidroponik di dalam ruangan sekalipun tanpa terpengaruh cuaca iklim. Indonesia bisa seperti Jepang yang sudah sukses menerapkan penanaman di dalam ruangan lebih dulu.

“Pertumbuhannya bisa efisien, 35 hari saja, mulai dari semai hingga panen. Bisa 10 kali proses panen selama 350 hari. Setahun hanya istirahat 15 hari. Jelas efektif, efisien, irit penggunaan air bumi hingga 90% karena indoor jadi penguapan airnya sedikit,” kata Willy.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait