#BERITABANDARLAMPUNG#EKONOMISYARIAH#MA'RUFAMIN#SYARIAHCORNER

Wapres Tegaskan Pemerintah Fokus Empat Sasaran Ekonomi Syariah

Wapres Tegaskan Pemerintah Fokus Empat Sasaran Ekonomi Syariah
Wakil Presiden Ma


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin menegaskan pemerintah fokus pada empat sasaran pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Adapun empat sasaran pengembangan ekonomi syariah yaitu pengembangan industri halal, industri keuangan, sistem keuangan sosial Islam, serta bisnis syariah. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 28 Tahun 2020 tentang Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).

"Selama ini Indonesia hanya menjadi tempat penerbitan sertifikasi halal bagi dunia. Ada yang langsung ke Indonesia, ada pula yang melalui lembaga setempat yang diendorse kehalalannya oleh Indonesia. Tapi, Indonesia belum menjadi produsen halal dunia," kata Kiai Ma'ruf dalam program "Syariah Corner" yang dipandu host Direktur Utama PT Masa Kini Mandiri (Lampung Post), Abdul Kohar, Selasa, 23 Maret 2021.  

Syariah Corner merupakan program mini talkshow yang akan ditayangkan di Metro TV Lampung (Grup Lampung Post) pada pertengahan April 2021.

Wapres juga menjelaskan, saat ini, Indonesia masih mengandalkan produk halal impor. Malahan, kata dia, importir terbesar dikuasai Brazil dan Australia. Selain itu, Indonesia adalah negara dengan konsumen produk halal terbesar di dunia. 

"Indonesia harus mulai serius memikirkan untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumsi halal domestik secara mandiri. Bahkan, berpotensi menjadi produsen halal terbesar,"ujarnya.

Untuk menindaklanjuti gagasan tersebut, Wapres juga menyatakan bahwa sekarang ini pemerintah telah merancang-bangun kawasan industri halal di beberapa wilayah. Di antaranya adalah kawasan industri halal di Sidoarjo, Jawa Timur, dan di Cikande, Serang, Banten.

"Kemudian disiapkan juga di Batang dan Subang," kata Wapres.

Menurut Kiai Ma'ruf, fungsi kawasan industri halal ini adalah untuk mendorong produksi dan pengembangan halal value chain (HVC).

"Jadi, kawasan industri halal akan mengintegrasikan kemitraan pengusaha besar, menengah, dan kecil, bahkan pasar global," ujar Kiai Ma'ruf.

Sedangkan untuk fokus industri keuangan, Wapres mengatakan salah satu upaya yang telah ditempuh adalah dengan memerger bank-bank syariah di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

"Merger ini akan memberikan pelayanan yang maksimal. Baik untuk pelayanan keuangan kecil, menengah, nasional, maupun global," kata dia.

Meski masih dalam tahap pengembangan, Wapres mengaku optimistis bahwa kekuatan ekonomi syariah Indonesia bakal menjadi yang terbesar di dunia. Dia menjelaskan, salah satu bukti yang sudah terlihat adalah kekuatan sukuk alias surat berharga syariah negara Indonesia saat ini sudah menjadi yang terbesar di pasar global. 

"Hanya saja, selama ini sukuk masih berkutat pada nilai dan harga yang tinggi, 10 juta rupiah ke atas. Sekarang kami sediakan juga sukuk ritel agar masyarakat bisa ikut menikmati. Hasilnya untuk pembangunan infrastruktur. Nilainya hingga puluhan triliun rupiah," terang Wapres. 

Fokus berikutnya adalah pengembangan dana sosial. Salah satunya, sebut Wapres, adalah wakaf. Ma'ruf menjelaskan bahwa wakaf merupakan dana abadi yang tidak boleh berkurang. Sekarang, wakaf bisa diinvestasikan ke berbagai portofolio, baik negara maupun swasta.

"Prinsipnya, yang penting aman dan menguntungkan. Menurut banyak survei, potensi wakaf uang di Indonesia bisa mencapai 180 triliun rupiah per tahun," kata dia. 

Dalam tradisi masyarakat di Indonesia, wakaf baru banyak diaplikasikan berupa penyediaan tanah maupun bangunan untuk masjid, musala, maupun pemakaman umum. Padahal, wakaf bisa dialokasikan dalam bentuk uang. Wapres menyebut, pedoman ini sudah dikuatkan dalam bentuk Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang wakaf uang yang diputuskan pada 11 Mei 2002. 

"Manfaatnya untuk membiayai kegiatan masyarakat, pendidikan, sosial, dan dukungan terhadap usaha kecil," tegas Wapres. 

Kiai Ma'ruf menyimpulkan, peta jalan ekonomi dan keuangan syariah berpuncak pada mulusnya ikhtiar pemulihan ekonomi di Indonesia. 

"Ujung-ujungnya pemulihan dan penguatan pembangunan nasional," kata Kiai Ma'ruf.

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar