#belajardirumah#humaniora#pendidikan

Orang Tua Mulai Mengeluh Mendampingi Anak Belajar Daring

( kata)
Orang Tua Mulai Mengeluh Mendampingi Anak Belajar Daring
Orang tua di Lampung Selatan saat mendampingi anak belajar daring. Lampost.co/Aan Kridolaksono

Kalianda (Lampost.co): Pandemi Covid-19 yang menyebar di wilayah nusantara membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak bisa dilakukan sebagaimana mestinya. Sementara pertemuan langsung KBM di tengah pandemi harus dilakukan secara daring.

Namun, pembelajaran secara daring ini bukan tanpa kendala. Sebagian wali murid merasa keberatan dengan pembelajaran online, karena tidak semua wali murid memiliki perangkat seperti smartphone ataupun laptop. Selain itu, kondisi perekonomian yang juga terdampak Covid-19, membuat para wali murid stres.

"Kita semua rata-rata status ekonomi menengah ke bawah. Jadi kalau terus belajar online pasti paket datanya mahal dan pengeluaran makin besar. Kami semua nggak sanggup," kata Tukini (43) salah satu ibu rumah tangga di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, kepada Lampost.co, Jumat, 24 Juli 2020.

Diakui Tukini, selama belajar di rumah, pengeluaran untuk pembelian paket pulsa membengkak. Apalagi Ia juga punya anak yang duduk di sekolah menengah dan sekolah dasar yang memerlukan interaksi lebih intensif dengan kelas daring.

"Ibarat kata, kaki buat kepala, kepala buat kaki. Yang penting anak bisa belajar dari rumah,” ujarnya.

Tukini pun mengungkapkan kini tugasnya sebagai ibu rumah tangga bertambah sebagai asisten guru, karena setiap hari ia harus memantau perkembangan pembelajaran yang diberikan guru wali kelas kepada anaknya.

“Anak saya masih kelas tiga SD. Semua instruksi belajar disampaikan guru lewat aplikasi WA. Jadi yang bisa menerjemahkan adalah kita, orang tuanya. Jadi tambah tugas kita sebagai asisten guru dan nambah stres,” ujar dia.

Hal serupa diungkapkan Sopian (38), warga Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan.  Menurut dia, kegiatan KBM secara daring mengharuskan siswa untuk memiliki gadget dan juga akses internet dianggap menyusahkan wali murid. 

"Kendala utama saat KBM daring adalah kuota. Tidak cukup uang Rp200 ribu untuk beli kuota setiap bulannya," katanya.   

Terkadang tambahnya, saat tidak ada uang untuk beli kuota data internet maupun gadget untuk mengikuti belajar online, anaknya yang duduk dibangku kelas VIII di salah satu SMPN yang ada di Kecamatan Ketapang itu terpaksa nebeng ke temannya.

Walau diakuinya telah mendapat bantuan sosial dari program keluarga harapan (PKH) sebesar Rp125 ribu per bulan. Namun, bantuan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan akan kuota internet untuk kedua anaknya yang duduk di bangku SD dan SMP. 

"Kalau enggak ada kuota, terpaksa anak harus menumpang ke rumah temennya supaya tetap bisa belajar secara daring," pungkasnya. 

Wali murid lainnya, Suroto, warga Desa Pematangpasir, Kecamatan Ketapang mengaku KBM daring menyusahkan wali murid karena harus mengeluarkan biaya untuk membeli ponsel android dan kuota internet di tengah pandemi Covid-19.

"Terpaksa beli ponsel android dan terpaksa juga setiap saat beli kuota internet supaya anak tetep bisa belajar," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...

Berita Terkait

Komentar