#LAMPUNGTIMUR#PENCABULAN

Vonis 20 Tahun dan Kebiri Kimia Diharapkan Jadi Efek Jera

Vonis 20 Tahun dan Kebiri Kimia Diharapkan Jadi Efek Jera
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Lamtim, Rita Witriati (Foto:Lampost.co/Djoni Hartawan Jaya)


Sukadana (Lampost.co) -- Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Lamtim, Rita Witriati, berharap vonis 20 tahun dan kebiri kimia yang dijatuhkan Majelis Hakim PN Sukadana terhadap Dian Ansori, pada Selasa (9/2/2021) bisa menjadi efek jera. Efek jera tersebut berlaku tidak hanya bagi mantan anggota Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur, tetapi juga bagi mereka yang coba-coba untuk melakukan tindakan kejahatan yang sama.


Hal itu diungkapkan oleh Rita menanggapi vonis Majelis Hakim PN Sukadana terhadap terdakwa kasus persetubuhan anak di bawah umur. Menurutnya, sejak awal kasus itu memcuat pihaknya memang telah menyerahkan sepenuhnya proses penanganan hukum Dian Ansori kepada aparat penegak hukum. Menurut Rita, vonis yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim PN Sukadana terhadap Dian Ansori dipastikan setimpal dengan perbuatan yang telah dilakukannya.


"Mudah mudahan vonis itu bisa menjadi efek jera bagi pelaku dan mereka yang mencoba-coba untuk melakukan kejahatan yang sama," kata Rita di ruang kerja, Rabu, 10 Februari 2021. 


Pada kesempatan sama, Rita juga menjelaskan, NV saat ini sudah diserahkan ke Panti Rehabilitasi Provinsi Lampung. NV tinggal di Panti tersebut bersama ayah dan adiknya karena mereka memang tidak memiliki rumah. Sementara Ibu NV saat ini berada di luar negeri bekerja sebagai TKI. NV sendiri kini sudah sekolah kembali di salah satu SMP di Bandar Lampung. Biaya sekolahnya dibiayai oleh Dinas Sosial Provinsi Lampung. 

Pada bagian lain,  LBH Bandar Lampung selaku kuasa hukum korban meminta kepolisian dan kejaksaan mengusut tuntas dugaan tindak pidana perdagangan orang. Sebab, dalam persidangan terungkap bahwa Dian pernah menawarkan NV kepada pria berinisial BA. Kemudian, BA memberikan sejumlah uang kepada korban dengan pesan bahwa uang sebesar Rp200 ribu diberikan kepada Dian.

“Putusan ini menjadi babak baru bagi penegak hukum untuk menindaklanjuti dan mengembangkan perkara dugaan tindak pidana perdagangan orang, sebagaimana yang terungkap dalam fakta-fakta yang dihadirkan di pengadilan,” kata Direktur LBH Bandar Lampung Chandra Muliawan melalui siaran pers, Selasa, 9 Februari 2021.

Chandra mengatakan, BA merupakan saksi pada persidangan a quo. Fakta persidangan menyebut bahwa korban pernah “dijual” oleh Dian. Pemerkosaan terhadap korban juga disertai iming-iming dan/atau ancaman.

Kasus yang menjerat Dian Ansori menjadi perbincangan publik. Pendamping anak itu berulangkali memerkosa NV, penyintas kekerasan seksual. Dian adalah pendamping NV. Dia memerkosa penyintas ketika bocah yang baru lulus sekolah dasar itu menjalani pemulihan akibat diperkosa pamannya. Selain Dian, Polsek Labuhan Ratu juga menangkap Andika, tersangka lainnya. Namun, pengusutan perkaranya secara terpisah.

 

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait