#Kesehatan#VirusKorona

Vaksin AstraZeneca Diharapkan Putus Mata Rantai Covid-19

Vaksin AstraZeneca Diharapkan Putus Mata Rantai Covid-19
Ilustrasi Vaksin AstraZeneca. Foto : Medcom.


Malang (Lampost.co) -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut penggunaan masa darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) atas vaksin AstraZeneca telah diterbitkan di sejumlah negara Islam seperti Saudi Arabia, Kuwait, Maroko, Bahrain, dan Mesir.

Di Indonesia, BPOM telah menerbitkan EUA berdasarkan hasil evaluasi dan pertimbangan kemanfaatan serta risiko, pada 22/2/2021 dengan nomor EUA2158100143A1. Sedang Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa No 14 tahun 2021 tentang Hukum Penggunaan Vaksin.

Penggunaan vaksin AstraZeneca diharapkan dapat mendukung pemerintah melaksanakan program vaksinasi nasional. Harapannya bisa berdampak positif terhadap aktivitas perekonomian.

Wakil Ketua PWNU Jatim KH Ahmad Fahrur Rozi mengatakan meskipun vaksin yang telah dibeli pemerintah seperti AstraZeneca dalam pembuatannya mengandung zat turunan hewani, namun pada tahapan produksinya menggunakan unsur nabati.

"Sehingga vaksin tersebut adalah suci karena pada produk akhir tidak terdapat kandungan unsur najis sama sekali," ujar Ahmad Fahrur Rozi, dalam keterangan resminya, Minggu, 21 Maret 2021.

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Indonesia mencatat ada 3,5 juta orang akan menjalani imunisasi mandiri dalam program vaksinasi gotong royong. Vaksin covid-19 ini diharapkan bisa efektif memutus mata rantai penyebaran virus mematikan itu dan nantinya berimbas positif terhadap perekonomian.

"Dari sisi perusahaan-perusahaan, jumlahnya sudah terdaftar ada 3,5 juta. Kami yakin ke depannya akan lebih," kata Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Anindya Bakrie, di Batam Kepulauan Riau.

Menurut dia, terdapat ribuan perusahaan yang sudah menyatakan mendukung program itu. Kadin bekerja sama dengan pemerintah mengupayakan vaksin gotong royong. "Semua itu tentu akan kami data dan nantinya akan diverifikasi oleh pemerintah," kata dia.

Kadin, kata dia, bekerja sama melakukan pendataan pihak-pihak yang menjalankan program itu. Kadin bekerja sama dengan Bio Farma dan ratusan rumah sakit swasta di penjuru Indonesia untuk menyukseskan program tersebut.

 "Kami, diberikan tanggung jawab untuk membantu 20 juta vaksin dari total yang pemerintah berikan yaitu 175 juta vaksin," kata dia.

Ia berharap, program itu bisa mulai dilaksanakan pada awal April 2021. Dirinya menambahkan, bagaimana pun juga perusahaan menginginkan karyawan sehat dan kembali produktif membangun perekonomian Indonesia.

"Yang paling penting, perusahaan-perusahaan ini mendukung vaksinasi gotong royong dan ini cara cerdas untuk mendistribusikan vaksin dengan baik," kata dia.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Asia-Pasifik Moody's Analytics Steve Cochrane mengatakan pemulihan ekonomi Asia berpotensi melambat karena lebih banyak negara menangguhkan penggunaan vaksin covid-19 yang dikembangkan oleh AstraZeneca. Kondisi itu menjadi risiko terhadap pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

"Ini menambah beberapa risiko kecil pada peran yang dimainkan Asia dalam hal perputaran ekonomi global," kata Steve Cochrane.

Laporan pembekuan darah pada beberapa orang yang menerima suntikan AstraZeneca-Oxford menyebabkan beberapa negara -banyak di antaranya di Eropa- untuk sementara waktu menghentikan penggunaan vaksin tersebut.

Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan tidak ada hubungan antara suntikan dan peningkatan risiko pembekuan darah dan sedang diselidiki.

Cochrane menambahkan masalah seputar vaksin AstraZeneca-Oxford dapat merugikan perdagangan global dan itu berita buruk bagi Asia di mana banyak ekonomi bergantung pada aktivitas perdagangan. Tentu diharapkan masalah tersebut bisa segera dicarikan jalan keluarnya agar tidak menjadi risiko besar.

"Ada kemungkinan hal itu dapat mengurangi perdagangan global jika peluncuran vaksin ditunda di Eropa dan itu berarti ada beberapa penutupan yang lebih luas pada ekonomi di Eropa -kemudian itu dapat memperlambat laju perdagangan global," pungkasnya.

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait