#Opini#Nilai#Pendidikan#Agama

Urgensi Nilai Pendidikan Agama

Urgensi Nilai Pendidikan Agama
Ilustrasi Pendidikan Agama. (Dok.Lampost.co)


DI Indonesia, nilai-nilai agama menjadi aspek penting dalam interaksi sosial, termasuk di dunia pendidikan. Tidak mengherankan jika keberhasilan pendidikan agama sering dijadikan parameter kualitas moral bangsa. Peranan agama sebagai perekat sosial sejatinya menjadi faktor penentu dalam pembentukan karakter bangsa yang religius dan berjiwa kebangsaan.

Kondisi itu tentu saja berbeda dengan kebutuhan karakter bangsa di negara sekuler. Di sana, perekat sosial diletakkan pada nilai-nilai humanistis yang bersumber dari ilmu pengetahuan. Penghargaan terhadap keunikan dan hak pribadi menjadi nilai inti kehidupan masyarakat di negara sekuler.

Di masyarakat kita, karakter manusia yang ingin dibentuk ialah sosok manusia yang memiliki keimanan yang kukuh. Agama sebagai roh karakter bangsa kita harus berdampak terhadap lahirnya perilaku sosial produktif dan penghargaan terhadap martabat manusia.

Nilai-nilai keutamaan pembentuk karakter bangsa sebenarnya diajarkan agama. Namun, pengetahuan tentang nilai-nilai keutamaan terkadang tidak selalu diikuti tindakan. Kenyataannya, masih ada celah antara nilai keutamaan dari agama secara preskriptif dalam realitas sosial secara deskriptif.

Bahkan, dalam celah itu acap terjadi konflik nilai. Pada konteks inilah, eksistensi pendidikan agama sering dipertanyakan. Seberapa ampuh mata pelajaran agama yang diajarkan tiga jam pelajaran dapat mengurai realitas sosial yang menyertakan distorsi dan konflik nilai?

Hasan Langgulung, ahli ilmu pendidikan Islam, menyatakan persoalan pendidikan Islam ibarat ujung tungkul atas gunung es yang mengambang dan bersentuh­an langsung dengan udara bebas. Pada wilayah seperti itu, norma dan nilai agama langsung bersentuhan realitas sosial yang di dalamnya sarat pertentangan nilai. Untuk itu, pendidikan Islam seyogianya membekali peserta didik dengan keterampilan memecahkan masalah.

Kritis Belajar Agama

Salah satu cara pembelajar­an nilai melalui pendidikan agama ialah dengan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Kemampuan ini diyakini dapat membekali peserta didik dalam menimbang nilai secara lebih tepat dan bijak. Kemampuan ini juga dapat mengasah anak dalam memecahkan masalah. Kritis bukan berarti mengkritisi ajaran agama yang kebenarannya pasti, melainkan memahami realitas sosial dan berupaya memperbaikinya agar sesuai dengan nilai-nilai keutamaan dalam agama.

Bila anak mampu berpikir kritis, ia memiliki kadar intelektual yang terasah dengan baik. Anak yang mampu berpikir kritis diyakini tidak akan mudah menerima suatu pemikiran yang belum ia cermati dengan saksama. Untuk itu, penguatan nilai logika berpikir ini perlu diperkuat dalam pembelajar­an agama di sekolah maupun di madrasah.

Pelajaran agama yang terjebak pada pemberian asupan pengetahuan tapi kurang eksploratif dapat melahirkan generasi yang berpandangan sempit dan berpengetahuan diskret. Akibatnya, tidak jarang muncul generasi yang gagal dalam memahami Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Stigmatisasi negatif dan syak wasangka pada orang lain yang berbeda dengan keyakinan dirinya antara lain diakibatkan oleh lemahnya kemampuan berpikir kritis.

Kelemahan ini perlu diatasi mengingat tujuan pendidikan agama ialah membentuk generasi yang memiliki keimanan yang kukuh dan karakter pribadi yang kuat. Pencapaian tujuan itu tentu saja harus direfleksikan dalam bentuk perilaku ketaatan beragama dan kemanfaatan untuk masyarakat sekitar.

Pendidikan Esoteris

Sebagaimana lazimnya, belajar agama menyangkut hal yang nyata dan yang gaib. Dalam bahasa filsafat nilai, relung kehidupan beragama yang nyata dan mudah dipahami masyarakat pada umumnya disebut eksoterik. Sementara itu, bagian kehidupan beragama yang menyangkut sisi terdalam dan gaib, yang hanya biasa dicapai dengan kekuatan batin, itulah yang disebut esoteris.

Untuk urusan yang sifatnya eksoterik, pembelajaran agama tidak banyak menghadapi masalah jika dibandingkan dengan pengalaman beragama di wilayah esoteris. Ihwal keimanan, misalnya, dapat dijelaskan guru agama melalui topik pelajaran rukun iman. Namun, menanamkan jiwa keimanan yang melekat dalam diri anak bukanlah perkara mudah, pun demikian mengukur kualitas keimanan anak adalah hal yang absurd untuk dilakukan oleh guru.

Mengapa keimanan sulit diukur? Seperti sifatnya yang halus dan imaterial, iman bersemayam dalam hati. Sifat hati sama dengan karakteristik yang mengisinya, yakni subjektif, irasional, naqliyah, dan mistis. Walaupun keimanan dipengaruhi asupan pengetahuan melalui otak, keadaan yang sebenarnya tetap sulit diukur. Keadaan ini tentu berbeda dari pembelajaran mata pelajaran sains. Semua mata pelajaran sains mudah diukur tingkat keberhasilannya.

 

 

EDITOR

Rohmat Mulyana Sapdi/Direktur Pendidikan Agama Islam, Ditjen Pendis Kemenag RI

loading...




Komentar


Berita Terkait