#pariwisata#liburan#Nataru

Untung Rugi bagi Lampung jika Cuti Nataru Dihapus

Untung Rugi bagi Lampung jika Cuti Nataru Dihapus
Wisata pantai di Lampung yang indah paling banyak dikunjungi wisatawan saat aakhir pekan maupun liburan. (Foto:Dok.Lampost)


Bandar Lampung (Lampost.co)--Sebentar lagi sudah di ujung tahun, dan Pemerintah menghapus cuti bersama Natal 2021 dan Tahun Baru (Nataru) 2022. Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah menilai langkah tersebut tidak efektif dan kontra produktif.

“Meskipun ada larangan ditiadakan cuti ini, tetap saja masyarakat akan melakukan aktivitasnya untuk libur. Jadi menurut saya ini kebijakannya kontra produktif,” jelas Trubus dalam tayangan Metro Siang di Metro TV, yang dikutip Lampost.co, Minggu, 31 Oktober 2021.

Menurut Trubus, permasalahannya adalah pemerintah sudah membuka mobilitas masyarakat. Selain itu, tempat-tempat wisata juga telah diperbolehkan beroperasi. Ia yakin, masyarakat akan mengunjungi tempat wisata pada saat hari libur. Ini ditakutkan malah membuat kerumunan dan berisiko menimbulkan penyebaran covid-19.

Trubus menyarankan pemerintah untuk menutup tempat wisata atau tempat perbelanjaan ketika libur Nataru. Ini dinilai lebih efektif menghindari terjadinya gelombang ketiga covid-19 di Indonesia.

“Sektor di mana masyarakat berkumpul, atau melakukan aktivitas aktivitas liburan itu sementara ditutup semua,” kata Trubus.

Jika tak mungkin ditutup, maka protokol kesehatan (prokes) pencegahan covid-19 harus diperketat. Selain itu, harus ada pembatasan kapasitas bagi para pengunjung tempat wisata. Trubus menyarankan hanya 60-70% dari kapasitas normal. 

Percepatan vaksinasi juga disebut memiliki peran penting. Mengingat masih banyak masyarakat yang ternyata belum melakukan vaksinasi dosis kedua. Kemudian, vaksinasi dosis ketiga atau booster sebaiknya dilakukan secepatnya.

“Kalau bisa vaksinasi ketiga atau booster segera dilakukan, karena efektivitas vaksinasi sudah mulai menurun,” ujar Trubus.

Berbeda dengan Trubus, peneliti Global Health Security and Policy, Center for Environment and Population Health, Griffith University Australia, Dicky Budiman justru mengatakan keputusan pemerintah tersebut dinilai sangat tepat. Sebab, pada momentum tersebut diyakini terjadi gelombang masyarakat yang berlibur.

"Ini ada fenomena balas dendam liburan dan juga dampak dari kejenuhan yang ada terjadi di masyarakat akibat pandemi covid-19," kata dia. 

Dicky mengatakan melarang masyarakat tidak berlibur hal yang sulit. Terlebih saat ini kasus covid-19 di Indonesia tidak mengganas. Kondisi itu diyakini membuat masyarakat berpikir untuk berlibur. Dengan demikian, membatasi pergerakan masyarakat menjadi formula tepat.

"Sehingga, yang bisa kita lakukan adalah melakukan pembatasan dalam batasan-batasan yang tentu juga tidak memberatkan semua pihak," ujar Dicky.

Perketat syarat masuk Lampung

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menyiapkan serangkaian langkah strategis terkait penerapan kebijakan tersebut. Pemprov, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengeklaim akan memperketat pintu masuk Lampung. 

"Penerapan libur Nataru nanti, kami Dinas Kesehatan akan lebih memperketat pengawasan. Karena di tengah situasi pandemi covid-19 saat ini harus melakukan tindakan persuasif," kata Kepala Dinkes Provinsi Lampung, Reihana. 

Ia mengatakan, Dinkes akan lebih mengerahakan petugas dan akan lebih ketat pengawasn dibandingkn dengan libur Nataru tahun lalu. 

"Langkah awal menjelang Nataru nanti, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi akan menyurati bupati/wali kota di 15 kabupaten/kota untuk mengantisipasi libur Nataru ini," jelasnya. 

Kebijakan penghapusan cuti Nataru ini dinilai bisa menghindarkan warga Lampung dari ancaman covid-19 gelombang ketiga. Namun di sisi lain, sektor pariwisata akan mengalami dampak paling signifikan. 

Kekhawatiran itu, salah satunya diungkapkan pihak pengelola salah satu destinasi wisata di Lampung, Pulau Mahitam Pesawaran. 

"Yang jelas pasti kami amat terdampak. Karena memang hari yang paling mendominasi banyaknya pengunjung adalah hari weekend atau libur cuti," kata Kepala Koordinasi Pulau Mahitam Pesawaran, Rahmat.

Menurutnya, sebelum pandemi pengunjung saat akhir pekan dan hari libur bisa mencapai 800 hingga 1.000 pengunjung. 

"Bahkan, akan bertambah jika ada libur panjang," ujar dia.

Namun, saat pandemi melanda, pengunjung merosot signifikan di angka 100 hingga 200 pengunjung saja dalam sehari. 

"Apalagi saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), benar-benar terpuruk. Jadi, memang tujuan kami paling mendominasi di hari libur itu," kata Rahmat.

Tidak hanya bagi pengelola wisata, Rahmat memperkirakan kebijakan tersebut bakal berimbas ke para pedagang. 

"Di Pulau Mahitam ini kami sudah melakukan sistem bergantian untuk pegawainya jadi tidak semua bekerja. Pembagian ini kasihan buat pegawai, belum pedagang di sini ikutan kena imbas," katanya.

Rahmat berharap pemerintah dapat memikirkan nasib pelaku usaha pariwisata karena sudah mengikuti aturan termasuk prokes.

"Kami sudah menerapkan sistem prokes. Bahkan pengunjung wajib tunjukkan sudah vaksin. Saya rasa itu sudah cukup mewakili untuk menghindari penyebaran covid-19," tutup dia.

EDITOR

Sri Agustina


loading...



Komentar


Berita Terkait