#rusiaukraina#beritainternasional

Ukraina Minta Rusia Mundur Sepenuhnya

Ukraina Minta Rusia Mundur Sepenuhnya
Presiden Volodymyr Zelensky . Foto: AFP


Kyiv (Lampost.co) -- Ukraina menegaskan sikap kerasnya terkait usulan negosiasi dengan Rusia. Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan pembicaraan hanya dapat dilanjutkan setelah Kremlin melepaskan semua wilayah Ukraina dan Kyiv akan terus berjuang bahkan jika ditusuk dari belakang oleh sekutunya.

Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah laporan media Amerika Serikat (AS) bahwa Washington mendorong Kyiv untuk memberi sinyal kesediaan untuk melakukan pembicaraan, dan tampaknya ditujukan untuk menolak tekanan semacam itu, pada saat pemilihan paruh waktu AS dapat menguji dukungan Barat untuk Ukraina. 

Dalam pidato semalam sebelum dia akan berpidato di depan para pemimpin dunia pada pertemuan puncak iklim, Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan Rusia harus didorong ke dalam negosiasi ‘tulus’.

“Ukraina berulang kali mengusulkan pembicaraan semacam itu. Tetapi kami selalu menerima tanggapan gila Rusia dengan serangan teroris baru, penembakan atau pemerasan,” ujar Zelensky, seperti dikutip NDTV, Rabu 9 November 2022.

BACA JUGA: AS Minta Ukraina Berdialog dengan Rusia

"Sekali lagi pemulihan integritas teritorial, penghormatan terhadap Piagam PBB, kompensasi untuk semua kerusakan yang disebabkan perang, hukuman bagi setiap penjahat perang dan jaminan tidak akan terjadi lagi. Ini adalah kondisi yang sepenuhnya dapat dimengerti," imbuhnya.

Sejak Rusia mengumumkan pencaplokan wilayah Ukraina pada akhir September, Zelensky memutuskan Kyiv tidak akan pernah bernegosiasi dengan Moskow selama Vladimir Putin tetap menjadi Presiden Rusia. Pejabat Kyiv mengulangi posisi itu dalam beberapa hari terakhir, sambil mengatakan Kyiv akan bersedia untuk bernegosiasi dengan penerus masa depan Putin.

"Bernegosiasi dengan Putin berarti menyerah, dan kami tidak akan pernah memberinya hadiah ini," kata penasihat Zelensky, Mykhailo Podolyak, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Italia La Repubblica yang diterbitkan pada Selasa.

“Dialog akan mungkin hanya setelah pasukan Rusia meninggalkan wilayah Ukraina,” imbuh Podolyak.

“Kami tidak punya pilihan. Rusia menginvasi kami dengan krematorium mobil dan setengah juta kantong mayat. Jika kami berhenti membela diri, kami tidak akan ada lagi. Secara harfiah dan fisik, kami akan terus berjuang bahkan jika kami ditikam dari belakang," katanya.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait