#internasional#beritainternasional

Tulang Belulang 215 Anak-Anak Ditemukan di Bekas Sekolah Kanada

Tulang Belulang 215 Anak-Anak Ditemukan di Bekas Sekolah Kanada
Sebuah sekolah untuk anak-anak suku pribumi dibangun di British Columbia, Kanada di era 1950. (Library and Archives Canada/Stuff.co.nz


Ottawa (Lampost.co) -- Kuburan massal berisi tulang belulang 215 anak-anak suku pribumi ditemukan di sebuah area bekas berdirinya sebuah sekolah di British Columbia, Kanada. Penemuan ini merupakan bagian dari sejarah kelam Kanada terkait perlakuan diskriminatif terhadap suku pribumi.

Chief Rosanne Casimir dari kelompok etnis Tk'emlúps te Secwepemc, mengatakan tulang belulang itu ditemukan akhir pekan kemarin dengan menggunakan peralatan radar canggih yang mampu menembus perut Bumi.

Tulang belulang 215 anak-anak itu ditemukan di sebuah situs bekas berdirinya Sekolah Hunian Kamloops India.

"Sepengetahuan kami, anak-anak yang hilang ini bagian dari kematian yang tak terdokumentasi," kata Casimir, dilansir dari laman stuff.co.nz pada Sabtu, 29 Mei 2021.

Perry Bellegrade, kepala nasional Majelis Negara-Negara Pertama, mengatakan via Twitter bahwa penemuan kuburan massal di area bekas sekolah hunian suku pribumi di Kanada bukan sesuatu yang baru. Namun, ia menegaskan penemuan itu terasa menyakitkan, seolah membuka luka lama.

Dari 1883 hingga 1996, hampir 150 ribu anak-anak pribumi di Kanada dipisahkan dari keluarga mereka, sebagian dilakukan secara paksa. Anak-anak itu kemudian dikirim ke sekolah yang didanai pemerintah atau dijalankan gereja dalam upaya mengasimilasi mereka.

Di sekolah-sekolah itu, banyak anak menghadapi penelantaran dan penyiksaan fisik serta seksual. Selama pembelajaran di sekolah, anak-anak pribumi dilarang menggunakan bahasa atau budaya mereka.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada menyimpulkan dalam laporan 2015 yang terjadi di sekolah-sekolah itu dapat dikategorikan sebagai genosida kebudayaan.

Laporan komisi juga mengidentifikasi setidaknya 3.200 murid pribumi yang tewas di sekolah-sekolah Kanada kala itu. Selang beberapa waktu, laporan itu direvisi dan angkanya bertambah menjadi 4.100.

Laporan itu juga menyebutkan pihak sekolah terkadang tidak mencatat nama-nama siswa yang meninggal beserta penyebab kematiannya. Sebagian siswa yang meninggal juga terkadang dikubur di halaman sekolah karena jaraknya yang begitu jauh dari tempat tinggal suku-suku pribumi.

 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait