#keluarga#anak#gadget#internet

Tujuh Dampak Buruk Kecanduan Gawai bagi Anak

Tujuh Dampak Buruk Kecanduan Gawai bagi Anak
LPHPA Lampung bersama Tim Paud Institut mengajak anak-anak menonton film-film edukasi. Lampost.co/Triyadi Isworo


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Para orang tua perlu memberikan perhatian khusus kepada anak-anaknya, terutama dalam menggunakan gawai selama bulan Ramadan.  

Ketua Lembaga Pemerhati Hak Perempuan dan Anak (LPHPA) Lampung Toni Fisher bersama Tim Paud Institut menjumpai fenomena meresahkan dalam kehidupan anak-anak ketika menelusuri pinggiran Kota Bandar Lampung usai salat tarawih.

"Anak-anak tidak bisa dibendung dari kecanduan gadget. Apabila dilarang maka menangis, marah-marah, bahkan sampai berperilaku merusak barang. Jika paket pulsa habis, maka akan memaksa orang tua untuk membelinya meskipun terkadang tak ada uang," katanya, Kamis, 22 April 2021.

Baca: Tanda-tanda Anak Kecanduan Gawai dan Cara Menanganinya

 

Toni menyebut, problem kecanduan gawai harus menjadi perhatian semua pihak. Beberapa survei telah menunjukkan bahwa; Pertama, anak yang terlalu sering bermain gagdet akan mempengaruhi fungsi otak dan menyebabkan anak tersebut menjadi kurang perhatian terhadap lingkungan sekitarnya. 

Kedua, saraf anak yang masih berkembang dan tulang tengkorak masih tipis membuat mereka rentan terkena radiasi ponsel. Penggunaan ponsel di dekat kepala dikhawatirkan akan menghancurkan sel otak anak.

Ketiga, anak-anak yang menghabiskan waktu terlalu banyak dengan teknologi akan mengurangi interaksi dan mengganggu keterampilan komunikasi.

Keempat, anak yang menghabiskan waktu bermain di depan layar gadget cenderung tidak mampu membakar kalori di tubuhnya kemudian mengalami obesitas yang dapat menyebabkan komplikasi penyakit seperti diabetes, serangan jantung, dan stroke.

Kelima, anak yang kecanduan bermain gagdet lebih mungkin mengalami gangguan pada mata dan kontak yang terlalu lama di depan gawai dapat merusak mata mereka. 

Keenam, anak yang kecanduan bermain gawai kurang tertarik bermain di alam terbuka karena mereka terbiasa menatap layar gawai dan tidak tertarik dengan interaksi fisik. Ketujuh, anak yang berinteraski dengan gawai berjam-jam akan bersikap agresif, temperamental, dan lebih berbahayanya lagi ketika mereka tumbuh dewasa. Setelah kecanduan gawai lebih besar kemungkinan mereka tidak akan mematuhi orang tuanya.

Toni mengamati bahwa anak-anak sangat sulit untuk dilarang bercengkerama dengan gawai. 

"Lantaran pandemi covid-19, pemerintah memberlakukan sekolah daring (online). Pada jam belajar mereka secara teoritis aman namun tidak sedikit pula yang nyolong nonton Youtube atau main gim," kata dia. 

LPHPA Lampung menawarkan beberapa alternatif untuk mengendalikan waktu penggunaan gawai, khususnya pada anak-anak melalui program literasi. Anak-anak diimbau membaca buku atau menonton film-film edukasi anak seperti kisah-kisah nabi saat jelang berbuka puasa maupun setelah tarawih. 

"Ternyata anak-anak masih bisa diarahkan untuk melepaskan gawainya," katanya. 

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait