#stunting#tubaba

Tubaba Bergerak Bersama Tangani Stunting

Tubaba Bergerak Bersama Tangani Stunting
Tubaba Bergerak Bersama Tangani Stunting. (Foto:Lampost/Merwan)


PANARAGAN (Lampost.co)--Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) terus mempercepat upaya perbaikan gizi masyarakat guna mendukung program nasional mewujudkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkualitas.

Salah satunya melalui intervensi yang mengacu pada Peraturan Presiden  No.72/2022 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Kadis Kesehatan Tubaba Majril mengatakan berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 prevalensi stunting di Tubaba mencapai 30,8%. Sedangkan, hasil Survei SSGI Tahun 2021 terjadi penurunan angka prevalensi stunting di Provinsi Lampung dari 26,26%  pada tahun 2019 menjadi 18,5% pada tahun 2021.

"Sedangkan hasil survei SSGI tahun 2021 di  Tubaba angka prevalensi stunting menurun 22,1%. Untuk menurunkan angka stanting ini berbagai terobosan dilakukan dengan melibatkan semua pihak mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat tiyuh/desa," ungkapnya.

Langkah yang dilakukan antara lain intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik dalam percepatan penurunan stunting dapat menurunkan angka stunting sebanyak 30%. Sedangkan, intervensi gizi sensitif dapat menurunkan angka stunting sebanyak 70% dengan melibatkan lintas sektor.

"Tahun ini Kabupaten Tubaba termasuk dalam kabupaten lokus stunting di Indonesia, dalam mendukung program ini pemkab sudah melakukan rembuk stunting. Selain itu, menggerakan seluruh kader kesehatan di semua tingkatkan dengan berbagai program pendukung," ujarnya.

Bahkan, pihaknya juga sudah mengeluarkan delapan regulasi terkait konvergensi penanganan stunting. Harapannya,  aksi konvergensi penanganan stunting di Tubaba dapat dilakukan secara terintegrasi, terkoordinir, dan saling bersinergi antarOPD terkait dan mudahan-mudahan target yang dicanangkan Presiden sebesar 14% pada tahun 2024 dapat  tercapai.

Selain itu, untuk mendukung aksi percepatan ini pemkab juga melalui Dinas Kesehatan telah menyiapkan alat antripometri dan USG yang nantinya akan digunakan untuk mengukur BB dan TB balita serta untuk mengetahui kondisi bayi dalam kandungan.

"Alat kesehatan tersebut akan disiapkan di puskesmas rawat inap mampu PONED (pelayanan obsteri neronatal emergensi dasar) di semua kecamatan," ujar Majril.

Menurutnya, sesuai arahan Pj Bupati, semua OPD juga bergerak melakukan berbagai terobosan dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui program Keluarga Nenemo Mandiri Pangan yang fokus terhadap pemanfaatan 3K (kolam, kandang dan kebun).

"Jadi penanganan stunting ini bukan hanya Diskes yang bergerak. Tapi semua OPD melalui program yang telah ditentukan," ujarnya.

Dikatakanya, selain kegiatan percepatan penurun stunting Pemkab Tubaba juga mendorong percepatan cakupan vaksinasi booster. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat  tanggal 8 Agustus 2022 untuk vaksinasi dosis pertama telah mencapai 82,24%, dosis kedua 67,10%, serta dosis ketiga 18,87%.

Untuk dosis vaksin ketiga (booster) Pemkab menargetkan capaian vaksin sebesar 35% dengan mengandeng TNI/Polri dalam percepatan vaksinasi, seperti mengadakan gerai vaksin di beberapa tempat; mobilisasi sasaran vaksinasi; penggunaan aplikasi peduli lindungi pada kantor pelayanan publik serta tempat wisata. Bahkan,  menerbitkan regulasi untuk mendukung pencapaian cakupan vaksinasi yang melibatkan forkopimda, camat, kelurahan/ tiyuh dan lintas sektor.

"Dengan  upaya ini diharapkan percepatan pelaksanaan vaksinasi ketiga guna memutus mata rantai penyebaran covid-19 di kabupaten tubaba tercapai," papar Majril.

Terkait kegiatan bidang kesehatan pada tahun 2022 ini akan dilaksanakan penilaian/survei akreditasi dan reakreditasi tujuh unit UPTD Puskesmas yaitu untuk penilaian reakreditasi adalah Puskesmas Ranap mampu PONED Panaraganjaya dan Mulyaasri serta Puskesmas non-ranap Candramukti, Kecamatan Tulangbawang Tengah.

Selanjutnya,  Puskesmas Ranap mampu PONED Kibang Budijaya, Kecamatan Lambu Kibang dan Puskesmas Ranap mampu PONED Sukajaya Kecamatan Gunungagung.

Kemudian untuk penilaian akreditasi pada puskesmas non-ranap Totokaton, Kecamatan Batu Putih dan Dwikorajaya, Kecamatan Gunungagung. 

"Penilaian atau survei akreditasi ini bertujuan meningkatkan dan menjamin mutu pelayanan kesehatan yang diberikan fasilitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dan melalui survei ini kita mendapatkan pengakuan dari Komisi Akreditasi Nasional Kemenkes RI bahwa pelayanan yang diberikanPuskesmas telah sesuai dan memenuhi standar yang ditetapkan," kata dia.

Dinas Kesehatan terus mengingatkan agar Puskesmas dapat berupaya memaksimalkan pelayanan kesehatan, melaksanakan semua program-program kerja yang sudah direncanakan serta melakukan implementasi terkait dokumen-dokumenn penilaian yang akan dibuat.

"Untuk persiapan akreditasi dan reakreditasi  UPTD Puskemas saat ini tim pendamping sedang melakukan pembinaan secara intensif sehingga target terakreditasi pada tahun 2022 ini dapat tercapai secara maksimal," pungkasnya.

EDITOR

Sri Agustina


loading...



Komentar


Berita Terkait