#Jalanrusak#Infrastruktur

Truk Bertonase Berat Jadi Biang Kerusakan Jalan Donoarum-Sulusuban

Truk Bertonase Berat Jadi Biang Kerusakan Jalan Donoarum-Sulusuban
Kondisi Jalan Kabupaten ruas Dono Arum, Lampung Tengah. Lampost.co/Wahyu P


Gunungsugih (Lampost.co) -- Jalan utama Kampung Donoarum-Fajarasri hingga Kampung Sulusuban Kecamatan Seputihagung, Lampung Tengah, kurang lebih sepanjang 7,5 km mengalami kerusakan cukup berat. Kendaraan truk bertonase tinggi milik lapak singkong hingga truk pasir dituding jadi penyebabnya.

"Bisa puluhan mobil sehari. Rata-rata truk fuso (tronton) bermuatan singkong dan ada juga yang muatan jagung dari lapak milik para pengusaha. Ada juga truk pasir," kata Trisno (54), warga Sulusuban yang sering melewati jalan tersebut. Ia menambahkan, banyak lapak di wilayah Sulusuban yang memilih menggunakan truk tronton.

Warga lainnya, Ardi (34), menuturkan, ulah oknum pengusaha lapak sudah keterlaluan. Padahal, kata dia, bisa saja para pengusaha menggunakan truk medium sebagai kendaraan angkut menuju pabrik.

"Kalau truk fuso (tronton) muatannya saja sudah di atas 20 ton. Belum lagi beban kendaraannya. Jadi wajar kalau jalannya cepat rusak. Apalagi ini hanya jalan kabupaten, yang batas beban kendaraannya maksimal hanya sekitar 5 ton," jelasnya.

Masyarakat berharap Pemkab Lamteng segera turun tangan. Seperti memasang portal untuk kendaraan besar serta memanggil pengusaha lapak untuk tidak menggunakan truk tronton.

Sementara, Eko Prayitno (46), warga Fajarasri, mengatakan bahwa masyarakat sangat berharap pemda membuat regulasi yang tegas terkait masalah ini.

"Jangan sampai ada prasangka bahwa pemda tutup mata terkait masalah ini. Kalau seperti ini pemda dan masyarakat yang dirugikan. Sedangkan segelintir pengusaha yang tidak peduli malah dapat untung. Ini kan tidak adil," kata dia.

Dinas Perhubungan (Dishub) Lamteng berencana memasang rambu-rambu di jalan kabupaten ruas Donoarum-Sulusuban. Hal ini
untuk memberi peringatan kepada para pemilik kendaraan agar tidak membawa muatan yang melebihi kapasitas jalan. Meski sebelumnya rambu telah dipasang namun selalu hilang.

"Sebenarnya ruas jalan ini sudah kami batasi jumlah maksimum kendaraan yang boleh lewat, yakni maksimal 6 ton. Tapi rambu-rambu yang kami pasang selalu hilang," kata Plt Kadishub Lamteng Helmi Zein.

Menurut dia, pemasangan rambu di titik tersebut menjadi prioritas Dishub Lamteng. "Akan kami prioritaskan untuk rambu larangan masuk bagi kendaraan dengan JBB (Jumlah Berat Bruto) lebih dari 6 ton," jelasnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi kembali kepada para pengusaha lapak singkong yang ada di sekitar ruas jalan tersebut agar mematuhi aturan yang ada.

Wakil Ketua DPRD Lamteng Yulius Heri meminta para pengusaha untuk menaati aturan tentang tonase. Sebab, merawat jalan umum adalah kewajiban bersama. Ia juga mendukung langkah-langkah dinas terkait keluhannya atas kerusakan jalan itu sepanjang bermanfaat dan sesuai aturan.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait