#opini#LampungPost#TragediMesir

Tragedi Mesir

Tragedi Mesir
Tragedi Mesir. tempo.co


SEJAK militer pimpinan Jenderal Abdul Fattah el-Sisi melakukan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Mohammad Morsi dari Ikhwanul Muslimin (IM) yang terpilih secara demokratis pada 2013, Mesir masuk ke lingkaran kekerasan tidak berkesudahan.
Tragedi paling akhir yang melanda Mesir adalah pembunuhan 305 orang jamaah salat Jumat di Masjid Al-Raudhah, Desa Bir el-Abd, Semenanjung Sinai, pada 24 November lalu. Tidak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa berdarah itu. Tapi sebelumnya, beberapa serangan di wilayah Sinai diklaim kelompok Wilayah Sinai yang berafiliasi dengan Islamic State (IS).
Di kawasan tersebut memang bersarang sejumlah kelompok ekstremis, seperti Wilayah Sinai, Gerakan Hasm, Jundul Islam, Takfir Wal Hijra, Anshar al-Syariah, Brigade al-Furqan, dan Ajnad Misr. Al-Qaeda juga berkembang di sana melalui Al-Tawhid al-Jihad dan Brigade Abdullah Azzam.
Kelompok-kelompok bersenjata itu tidak hanya melakukan kekerasan di Sinai. Mereka juga menyerang Kota Kairo, Alexandria, dan provinsi lain. Semua kelompok itu menganut ideologi salafi radikal, yang intoleran terhadap kelompok agama lain, bahkan sesama muslim yang tidak sealiran dengan mereka.
Mereka memandang rendah karya seni, membatasi kapasitas Islam untuk berubah sesuai dengan tuntutan zaman, memaksakan akidah pada orang lain, dan anti terhadap sufisme. Bir al-Abd dikenal sebagai pusat tarekat sufi terbesar di Sinai Utara. Adapun Masjid al-Raudhah merupakan tempat ibadah kaum penganut sufi.
Ada tiga kemungkinan motif yang melatarbelakangi serangan bom dan senjata otomatis itu. Pertama, serangan dilakukan sebagai buntut konflik internal masyarakat Semenanjung Sinai, yakni antara kelompok radikal dengan kaum pengikut aliran sufi. Kelompok yang disebut terakhir itu selama ini dikenal sebagai pihak yang tidak berpolitik, antikekerasan, dan menolak kelompok radikal.
Kedua, kelompok radikal menuduh kelompok penganut tarekat sufi bekerja sama dengan petugas keamanan dan pihak militer dalam memberikan informasi tentang aktivitas mereka. Ketiga, kelompok ekstremis ingin menghancurkan ekonomi Mesir.
Pariwisata adalah satu dari tiga sektor yang sangat diandalkan Mesir untuk menggerakkan ekonominya. Pada 2008, misalnya, pemerintah Mesir meraup 11 miliar dolar AS dari 12,8 juta turis asing yang datang ke negara itu. Sektor itu juga menyerap 12% dari total angkatan kerja Mesir.
Resort Sharm el-Sheikh dan Teluk Aqaba di Semenajung Sinai merupakan objek wisata Mesir yang paling digemari wisatawan mancanegara, selain piramida tentunya. Dengan adanya serangan dahsyat yang mengerikan itu bisa dipastikan akan menurunkan jumlah wisatawan yang datang ke Mesir, yang pada gilirannya akan mengganggu ekonomi negara.
Memang Semenanjung Sinai yang merupakan pegunungan dan terdapat sejumlah goa tempat para ekstremis bersembunyi, menyulitkan petugas keamanan dan militer menumpas mereka. Namun upaya-upaya kontraterorisme Mesir selama ini lebih bersifat reaksioner.
Jika ada serangan, baru militer bergerak. Setelah melancarkan beberapa serangan, operasi berhenti. Padahal Mesir menempatkan sekitar 50 ribu pasukan di Sinai. Ini sama besar dengan jumlah pasukan di sana saat terjadi perang dengan Israel tahun 1967. Operasi militer berkelanjutan dan kontraterorisme yang komprehensif perlu dilakukan.
Hal lain ialah pengentasan kemiskinan. Tidak kurang dari 40% masyarakat Mesir hanya hidup dengan 2 dolar AS sehari dan rakyat di Sinai merupakan yang termiskin di Mesir. Kemiskinan memudahkan kelompok ekstremis melakukan perekrutan.
Sementara itu, korupsi merajalela, standar hidup stagnan, dan ketiadaan trickle down effect akibat sistem ekonomi yang ekstraktif, yaitu sistem yang tertutup, mengisap, dan mengeksploitasi rakyat.
Selain itu, hal yang juga perlu diperhatikan Pemerintah Mesir ialah pengembangan sikap toleransi terhadap kebebasan beragama dan hak asasi manusia. Pemerintah sering membiarkan luasnya intoleransi umat Islam.
Ini dapat dilihat pada hasil survei Pew Global Attitude 2010, sebanyak 84% orang Mesir mendukung hukuman mati bagi mereka yang murtad, 77% mendukung hukuman cambuk dan potong tangan bagi yang mencuri, serta 82% mendukung hukuman rajam bagi penzina.
Penahanan dan pengadilan yang tidak adil terhadap puluhan ribu anggota IM, yang sebagian dijatuhkan hukuman mati dan seumur hidup, ikut menimbulkan kekecewaan yang luas di kalangan umat Islam Mesir. Apalagi legitimasi Presiden el-Sisi sendiri tidak kuat. Dalam Pilpres 2014, ketika el-Sisi menang, hanya 46% pemilik hak suara yang datang ke kotak suara. Pengikut IM memboikot hajat nasional itu.
El-Sisi perlu berdialog dengan Morsi dan pentolan IM lain yang sedang dipenjarakan untuk mencari jalan keluar bagi krisis politik Mesir. Tanpa rekonsiliasi dengan IM, perbaikan kehidupan ekonomi rakyat, dan pengembangan toleransi, Mesir akan terus dihantui aksi kekerasan yang membusukkan bangsa Mesir.

 

EDITOR

Smith Alhadar, Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies(ISMES), Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education

loading...




Komentar