maggotbudidaya

TPAS Karangrejo akan Berdayakan Maggot Urai Sampah Organik

TPAS Karangrejo akan Berdayakan Maggot Urai Sampah Organik
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sampah dan Kebersihan TPAS Karangrejo Supriyanto saat menunjukkan bakal tempat perkembangbiakan ulat maggot


METRO (Lampost.co) -- Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) yang berada di Karangrejo, Metro Utara berencana akan memberdayakan ulat maggot untuk mengurai sampah organik dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.  

"Kita akan mencoba menggunakan ulat maggot sebagai pengurai sampah organik. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Kalau tempatnya sudah ada, tinggal uji coba. Ini salah satu upaya kita memanfaatkan sampah organik yang masuk TPA Karangrejo," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sampah dan Kebersihan TPAS Karangrejo Supriyanto, Selasa, 24 November 2020.

Dia menjelaskan, saat ini kendala yang terjadi di lapangan adalah pemilahan sampah yang masuk. Sedikitnya 200 kubik sampah masuk ke TPAS Karangrejo dalam seharinya.

"Kedepannya kita akan lakukan program reduce, reuse, dan recycle itu bisa berjalan. Sehingga pemanfaatan sampah dapat menjadi sumber ekonomi dengan tata kelola yang baik maupun modern. Jadi sampah yang masuk itu akan terpilah mana yang sampah organik dan sampah un organik," ujarnya. 

Diketahui, ulat maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) yang dikenal sebagai lalat tentara. Meskipun dari keluarga lalat, BSF tidak menularkan bakteri, penyakit, bahkan kuman kepada manusia.

Seperti halnya belatung, ulat maggot berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Maggot mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar, maggot pun mengonsumsi sampah sayuran dan buah. 

Selain sangat cepat berkembangbiak, maggot mempunyai nilai ekonomis sebagai sumber pakan ternak dan menjadi pupuk. Karena mengandung protein tinggi dan kandungan gizi yang baik untuk ikan dan unggas. Dimana memiliki kadar protein sekitar 43 persen dalam keadaan utuh, dan 30 sampai 40 persen jika dijadikan pelet. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait