investasi

Tips Mengurangi Risiko Investasi Logam Mulia Saat Harga Turun

Tips Mengurangi Risiko Investasi Logam Mulia Saat Harga Turun
dok Lampost.co


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Saat berinvestasi, tentu kita sebagai investor mengharapkan adanya pertumbuhan nilai dari aset investasi, atau adanya imbal hasil. Namun, terkadang kita melupakan hadirnya risiko, sehingga panik jika nilai investasi tergerus atau berkurang.

Begitu juga dengan investasi emas logam mulia. Memang, emas batangan dengan kadar kemurnian 99,99 persen ini bisa dibilang sebagai aset aman, tetapi risiko itu tetap saja ada apalagi saat harga emas sedang turun.

Adapun diantaranya risiko berkurangnya nilai atau harga emas. Hal ini bisa terjadi karena harga emas di pasar bisa naik dan turun tergantung kondisi dan permintaan. Kemudian risiko kehilangan. Kalau kita menyimpan emas batangan sendiri, ada risiko hilang karena kita lupa tempat penyimpanannya atau risiko dicuri orang karena emas sangat menarik bagi siapapun.

Berikut redaksi Lampost.co infokan untuk anda cara aman  kurangi risiko investasi logam emas. "Cara paling umum untuk mengurangi risiko dalam berinvestasi adalah dengan diversifikasi. Diversifikasi investasi artinya membagi dana investasi dalam berbagai instrumen berbeda, sehingga risiko bisa terbagi sekaligus kita bisa menikmati potensi imbal hasil beragam dalam berbagai kondisi pasar," papar pemilik toko emas Sinar Baru, Budi Lee kepada Lampost.co.

Kemudian, profil risiko adalah seberapa besar tingkat toleransi investor terhadap risiko investasi. Investor yang berani mengambil risiko besar demi imbal hasil tinggi disebut sebagai investor agresif, atau pengambil risiko (risk taker). Sementara investor konservatif, lebih nyaman untuk memastikan dana pokoknya aman meski imbal hasilnya tidak terlalu tinggi.

"Dari profil risiko ini, kita bisa menyesuaikan porsi-porsi investasi di dalam berbagai aset. Bila kita termasuk investor agresif, mayoritas dana kita bisa ditaruh di pasar saham atau investasi reksadana saham dan sebagian kecil ditaruh di pasar uang, atau logam mulia emas. Contoh diversifikasinya adalah, 60 persen di reksadana saham, 20 persen di pasar uang, 10 persen di SBN dan 10 persen di emas," jelasnya. 

Tak hanya itu saja, khusus investasi emas, kita memerlukan tempat aman untuk menyimpan wujud fisik dari logam mulia ini agar tidak hilang atau mudah dicuri orang. Brankas atau safe deposit box di bank bisa menjadi pilihan aman, tetapi ada biaya tambahan.

Selanjutnya, diversifikasi menjadikan keragaman dalam aset investasi kita. Karena sifat yang berbeda dari tiap aset, ada saatnya satu aset tumbuh lebih tinggi daripada yang lainnya sehingga porsinya dalam portofolio kita berubah. Di saat satu aset sedang memberikan hasil yang tinggi, kita bisa memanennya, alias mencairkannya untuk mewujudkan keuntungan kita.

"Contohnya, harga emas baru saja mencapai rekor tertinggi sepanjang masa akibat pandemi Covid-19, sementara pasar saham sedang melemah. Kita bisa menggunakan momen ini untuk mengambil keuntungan (profit taking), saat harga emas tinggi kita jual saja sebagian tetapi jangan sebaliknya ketika harga turun kita panik dan justru menjualnya," ungkapnya. 

Kalau harga emas sedang turun, sebaiknya kita tidak menjualnya sebab yang terjadi kita justru menanggung kerugian. "Ukuran emas yang kita miliki tetap sama, misal kita membeli 5 gram, saat harganya turun tetap saja 5 gram. Makanya, kita bisa menyimpan emas itu sampai menunggu harganya naik kembali," tutup dia.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait