#pertanian#beritalampung

Tikus Serang Puluhan Hektare Tanaman Padi

Tikus Serang Puluhan Hektare Tanaman Padi
Kondisi tanaman padi yang dirusak hama tikus di areal lahan persawahan Desa Pematangbaru, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Selasa 1 Maret 2022. Lampost.co/Armansyah


Kalianda (Lampost.co) -- Puluhan hektare tanaman padi di Desa Pematangbaru, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, diserang tikus. Hama pengerat tersebut membuat tanaman padi rusak.

Sumadi, salah satu penggarap sawah di Desa Pematangbaru, mengaku tanaman padi berusia sekitar 50-60 hari setelah tanam (HST) rusak akibat serangan hama pengerat.

"Hampir semua lahan diserang tikus. Tingkat kerusakan berbeda-beda, mas. Paling parah kerusakan mencapai 70 persen. Kalau saya dengan luas seperempat hektare rusak sekitar 20-30 persen," kata Sumadi, di lahan sawahnya, Selasa, 1 Maret 2022.

Dia mengatakan terus berupaya mengendalikan hama tersebut dengan umpan dan pemasangan pagar plastik. Hasilnya membuat serangan hama sedikit berkurang.

"Beda dengan yang lain memang enggak pasang pagar plastik. Saya juga tebar kulit jengkol yang fungsinya supaya tikus enggak mau masuk lahan karena bau jengkol," ujarnya.

Petani lainnya, Ramli, mengatakan hama itu memaksanya untuk menunda pemupukan yang kedua. Sebab, jika dipupuk serangan tikus dikhawatirkan makin banyak.

"Kalau dipupuk tanaman padi makin subur dan rimbun. Kondisi seperti itu akan mengundang hama. Intinya saya belum berani pemupukan kedua," kata dia.

Sementara itu, Gapoktan Sinar Harapan Desa Pematangbaru, Mistar, menjelaskan tanaman padi yang terserang hama pengerat berkisar 20-30 hektare dengan tingkat kerusakan dan usia tanaman bervariasi.

"Di sini tanamnya tidak barengan. Ada tanaman yang berusia 60 HST dan ada pula yang baru 10-15 HST," kata dia.

Ia mengaku petani hanya bisa pasrah dan berharap ada tindak lanjut dari Pemkab Lamsel.

"Upayanya mulai dari pengumpanan dan pemasangan plastik. Tapi, kalau geropyokan kami tidak melaksanakan. Kami berharap ada bantuan untuk menangani serangan hama tikus yang sulit dikendalikan," ujarnya.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait