#nuansa#tiktok

Tik Tok

Tik Tok
Ilustrasi (Dok/Google Images)


SENIN pagi lalu gawai saya bergetar dan berdering singkat. Notifikasi aplikasi Wahtsapp menunjukkan sebuat pesan masuk dari salah seorang sejawat.  “Bisa bantu saya dengan menandatangani petisi ini?” demikian isi pesan singkat yang masuk.

Saya pun lekas mengklik link yang turut disertakan dalam pesan singkat itu. Aplikasi perambah di gawai pun lekas menuju satu laman web  change.org. Laman web yang saya kenali sebagai tempat bagi mereka yang ingin menggalang petisi akan suatu hal.

“Blokir Aplikasi Tik Tok” terpampang jelas pada laman situs menjelaskan tema petisi. Ketika itu jumlah penanda tangan petisi sudah lebih dari 130-an ribu orang.  Aplikasi asal negeri Tiongkok ini ditolak karena ditengarai menimbulkan beragam mudarat.

Dilansir BBC.com/Indonesia, Tik Tok adalah bagian dari Bytedance Inc, perusahaan internet raksasa Tiongkok yang juga jadi induk usaha Musical.ly. Di Indonesia, Tik Tok resmi diluncurkan pada September 2017 dengan sebuah pesta peluncuran di Jakarta.

Aplikasi ini dengan cepat menarik banyak perhatian. Namun, belakangan masyarakat mulai jengah lantaran aplikasi yang menjual konsep komunitas video kreatif 15 detik yang dapat dihiasi berbagai efek musik dan filter unik menarik lainnya.

Berbagai kabar negatif seputar polah pengguna aplikasi ini beberapa waktu terakhir menyeruak. Ada cerita seorang anak yang memainkan aplikasi ini di depan jenazah. Ada pula perawat yang menggunakan bayi mungil untuk bermain-main dengan Tik Tok.

Salah satu yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala adalah celotehan anak zaman now di akun pengguna Tik Tok Prabowo Mondardo alias Bowo. “Bowo kamu ganteng sekali. Gimana kalo kamu jadi Tuhan, aku nabinya. Kita buat agama baru yuk.” Hadeh.

Begitulah. Aplikasi macam Tik Tok tengah menjamur dan mudah sekali meraih pasar. Hal ini seiring pasar aplikasi mobile yang memang tumbuh pada tingkat yang teramat kilat. Jumlah unduhan aplikasi mobile diperkirakan mencapai 48 miliar pada 2015 lalu.

Fenomena itu bertalian erat pula dengan konsumsi komunikasi data seluler yang juga melesat. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, jumlah pelanggan telekomunikasi seluler di Indonesia meningkat empat kali lipat, dari 63 juta menjadi 211 juta pelanggan.

Bahkan, berbagai analis pasar telekomunikasi saat ini memperkirakan jumlah telepon selular yang beredar di Indonesia mencapai 300 juta unit atau melebihi penduduk Indonesia sendiri yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa. Anna Kidah.

Angka-angka itu dapat lebih memudahkan kita memahami mengapa aplikasi semacan Tik Tok mudah sekali menjadi booming. Jika dahulu kita sempat dihebohkan aplikasi PokemonGo dengan segala perdebatan, saat ini adalah eranya Tik Tok.

Berbagai aplikasi akan terus datang silih berganti di marketplace mobile app. Namun saya masih setuju dengan ungkapan lama “the man behind the gun” Jadi, baik buruk sebuah aplikasi itu sejatinya tergantung dari perilaku sang penggunanya.  Tabik Pun.

EDITOR

Abdul Gafur /Wartawan Lampung Post

loading...




Komentar


Berita Terkait