lbhpenganiayaan

Tidak Terima Dituntut Rendah, Korban Penganiayaan Lapor ke LBH

Tidak Terima Dituntut Rendah, Korban Penganiayaan Lapor ke LBH
Korban Penganiayaan Melapor Ke LBH Lampung Raya, Karena Tidak Terima Pelaku Pengroyokan Dituntut Rendah.


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Tidak terima dengan tuntutan yang dijatuhkan oleh jaksa penuntut umum selama 8 bulan terhadap 6 terdakwa penganiayaan, korbannya melapor ke Lembaga Bantuan Hukum Lampung Raya meminta keadilan, pada Minggu 11 Oktober 2020.

" Saya kecewa dengan kasus ini, karena kasus ini begitu lamanya, para tersangka itu hanya dituntut delapan bulan. Saya tidak terima dengan ini terus terang," kata Angga Saputra.

Korban pun mengatakan untuk saat ini di sudah tidak tinggal di kediamannya lagi, tidak bekerja seperti sediakala semenjak kejadian tersebut.

" Ada intimidasi, ancaman terus makanya saya pindah dari panjang, saya kecewa sekali hanya dituntut delapan bulan, saya pun tidak tahun sidang ini sudah tuntutan," katanya.

Direktur LBH Lampung Raya Alian Setiadi mengatakan, sebtulnya di dalam persidangan sebelumnya fakta hukum sudah digali usur-unsurnya oleh jaksa dan majelis hakim.

" Misalnya apakah korban dirawat di Rumah Sakit, semua digali oleh hakim dan jaksa artinya unsur UU pasal  351 ayat (2) ini terpenuhi berarti ini bukan pasal penganiayaan ringan tatapi berat, itu fakta yang terjadi di Pengadilan," katanya.

Perkara ini, kata Alian dinilai aneh karena tuntutannya cukup ringan, karena dalam peristiwa ini tidak ada hal yang meringankan didalam kasus ini tidak ada perdamaian, tidak adanya itikad baik berupa membantu pengobatan korban.

"Saya melihat itu tidak ada, baik itu perdamaian atau itikad baik dari pelaku ini. Saya berharap Hakim yang menangani ini lebih terbuka melihat fakta yang ada, perspektif korban juga harus dikedepankan," katanya.

Didalam pasal yang dituntutkan lanjut Alian, merupakan pasal penganiayaan ringan, semntara pasal lain didalam dakwaanya itu ada banyak termasuk pasal pengeroyokan, semestinya ada hal yang memberatkan karena ada pengeroyokan didalam.

Diketahui Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut enam terdakwa pemukulan terhadap nelayan dengan pidana penjara selama 8 bulan, ke enam nelayan itu Momon Santoso, Achmad Setiawan alias Mad, Joko Santoso, Ferry alias Metal, Yudi Sutrisno alias Buang, dan Maman alias KM, mereka merupakan warga Kampung Teluk Jaya Kelurahan Panjang Selatan Kecamatan Panjang, Bandar Lampung.

Dalam persidangan teleconfrance di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Jumat 9 Oktober 2020, Jaksa Ponco Santoso menyatakan jika keenamnya bersalah melakukan penganiayaan. Perbuatan keenamnya sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam dakwaan Alternatif Pertama melanggar Pasal 351 ayat (1) KUHP.

"Menjatuhkan pidana terhadap para terdakwa dengan pidana penjara selama delapan bulan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah  tetap ditahan," kata jaksa.

Hal yang meringankan terdakwa menyesali perbuatannya, belum pernah dihukum dan merupakan tulang punggung keluarga.

"yang memberatkan perbuatan terdakwa sewenang-wenang terhadap orang lain dan merugikan kesehatan orang lain," katanya.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait