#pilkadabandarlampung#perusakanapk

Terlapor Perusakan APK Melaporkan Balik Pelapor 

Terlapor Perusakan APK Melaporkan Balik Pelapor 
Ilustrasi.Dok. Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Polemik perusakan alat peraga kampanye (APK) milik pasangan calon nomor urut 2 Yusuf Kohar-Tulus Purnomo (Yutuber) pada kontestasi Pilwakot Bandar Lampung terus meruncing. Kini, terlapor kini berbalik dengan melaporkan pelapor ke Polresta Bandar Lampung.

Awalnya ada tujuh orang berstatus saksi terlapor perusakan APK Yutuber di Kemiling, yakni Aman Efendi, Dara Porijan, Faizal Hamzah, Hendarwin Herwanto, Novito Hasan, dan Suratman. Dan, setelah dibahas Sentra Gakkumdu perkara tersebut memenuhi unsur dugaan tindak pidana pemilu dan kini kasusnya dalam tahap penyidikan di Polresta Bandar Lampung.

Ketujuh terlapor pun menyerahkan nota keberatan atas perkara tersebut yang naik ke penyidikan. Kini para terlapor balik melaporkan pelapor ke Mapolresta Bandar Lampung.

Aman Efendi melaporkan tiga orang dari tim Yutuber, yakni Hariyanto, Martono, dan Antonius Segara dengan nomor LP/B/2572/XI/2020/LPG/ Resta balam, 23 November 2020. Kuasa hukum Aman Efendi, Juendi Leksa Utama dari kantor Hukum WFS dan rekan mengatakan kliennya melaporkan atas dugaan pelanggaran Pasal 335 KUHP, yakni diduga telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap kemerdekaan orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 335 Ayat (1). Dalam ayat tersebut disebutkan barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.

"Kami melaporkan tiga nama tersebut," ujar Juendi Leksa Utama, Selasa, 24 November 2020.

Menurut dia, ketiga terlapor bersama anggota Panwascam Kemiling yang bernama Dian Saputera telah datang dan masuk ke rumah kliennya tanpa izin pada Jumat, 30 Oktober 2020, sekitar pukul 18.30 WIB.

Terlapor diminta keluar, tapi malah diintimidasi dan dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya, yaitu terkait dengan penghilangan dan/atau merusak APK milik pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Bandar Lampung nomor urut 2 di Kelurahan Beringin Jaya, Kecamatan Kemiling.

Selanjutnya, pelapor dipaksa dengan intimidasi agar mengakui perbuatan penghilangan dan/atau merusak APK milik pasangan calon Yutuber merupakan perintah dari lurah Beringin Jaya serta kepala lingkungan (kaling) dan beberapa ketua rukun tetangga.

"Klien kami tidak mau mengakui dan atau menyatakan telah melakukan penghilangan dan/atau merusak APK milik pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Bandar Lampung nomor urut 2 di Kelurahan Beringin Jaya, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung. Klien kami diancam akan ditangkap dan dibawa oleh sekelompok orang (satu mobil) yang sudah siap berada di luar rumah," ujarmya.

Karena itu, Pelapor dengan terpaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya karena merasa nyawadan keluarganya terancam karena takut akan dibawa sekelompok orang yang telah menunggu di luar rumahnya.

"Pengakuan terpaksa di bawah ancaman intimidasi dilakukan untuk menyelamatkan diri dan keluarganya tersebut juga direkam tanpa izin dari klien kami. Ancaman intimidasi yang diterima  juga didengar, dilihat, dan disaksikan beberapa saksi. Kami memercayakan ke penyidik untuk memanggil saksi terkait dugaan intimidasi ancaman kekerasan itu," ujarnya.

Koordinator tim hukum paslon Yutuber, Ahmad Handoko, mempersilakan jika ada laopran dari terlapor. "Silakan saja, saya siap menghadapinya," ujarnya.

Terkait tudingan intmidasi, pengancaman, dan perekaman secara diam-diam, Ahmad Handoko membantah. Menurut dia, tidak ada sama sekali ancaman atau intimidasi tersebut.

"Itu jelas kok, saksinya banyak bahkan ada saksi dari panswacam ketika si pelapor (Amran) mengakui dengan jelas runut dan gamblang bagaimana cara merusak APK. Namun, seolah-olah rekaman tersebut dipaksa dan lain sebagainya, ini mengada-ada," katanya.

Bahkan, Handoko mengatakan pihaknya berencana melapor balik, terkait dugaan fitnah, pencemaran nama baik, dan pemberian keterangan palsu yang diduga dilakukan Amran. "Tim masih berdiskusi secepatnya kami akan lapor balik," katanya. 

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait