#TapisLampung#Pesawaran

Tenun Tapis Lampung Warisan Turun-Temurun

Tenun Tapis Lampung Warisan Turun-Temurun
Soleha warga Gedongtataan yang sedang membuat tapis dengan motif mata kibau. Lampost.co/ Putra Pancasila Sakti


Pesawaran (Lampost.co)-- Kerajinan tapis merupakan warisan yang dimiliki oleh masyarakat Provinsi Lampung, dan sampai saat ini kain tapis masih digemari oleh masyarakat luas bahkan masyarakat dari luar Provinsi Lampung.

Di Kabupaten Pesawaran terdapat dua desa yang memiliki banyak pengerajin tapis, di Desa Kagungan Ratu Kecamatan Negeri Katon yang merupakan sentra pengerajin tapis dan Desa Gedongtataan yang beberapa masyarakat keturunan suku Lampung masih membudidayakan pembuatan kain tapis.

Seperti halnya Soleha (57) warga Desa Gedongtataan Kecamatan Gedongtataan mengatakan, dirinya mulai membuat kain tapis sejak dirinya masih gadis, kebiasaan tersebut terus berlangsung sampai sekarang dimana dirinya telah memiliki lima anak.

"Kalau dulu, saya bisa membuat kain tapis ini pertama karena sering melihat orang tua saya yang menapis, kemudian saya diajari oleh orang tua saya yang kebetulan keturunan asli sini, sehingga kami anak-anaknya diwajibkan untuk bisa," ujarnya, Selasa 5 Juli 2022

Saat ini, lanjutnya tradisi menapis ini diteruskan oleh anak perempuan satu-satunya, sehingga tradisi yang telah diturunkan dari nenek moyang dapat terus dilestarikan hingga saat ini.

Baca Juga : Warga Lampura Raup Cuan dari Tapis Lokal

"Kalau dulu, sebagian besar anak perempuan pasti bisa membuat tapis karena orang tuanya mengajari anak gadis mereka membuat tapis, maka dari itu saat ini saya juga mengajarkan cara menapis kepada anak bungsu saya yang perempuan. Sehingga kain khas Lampung ini dapat terus berkembang pada zaman modern saat ini," ujar dia.

Sementara itu, Elvi pengerajin kain tapis di Desa Kagungan Ratu mengatakan, hampir seluruh warga yang berada di desa tersebut dapat membuat kain tapis, karena hal itu merupakan tradisi yang diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

"Berawal dari kebiasaan itulah, sehingga lama kelamaan kegiatan menapis itu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memperoleh pundi-pundi uang guna menambah dari segi perekonomian keluarga," kata dia.

Dirinya mengatakan, dirinya bisa membuat kain tapis dengan berbagai motif, seperti besakhung, tapis cantik, tapis abung, tapis ujung krui, dan tapis ujung syarat. Harga tapis bisa berbeda-beda tergantung tingkat kerumitan dari motifnya.

Ia melanjutkan, harga kain tapis sepaket sarung dan selendang tapis mulai dari harga Rp400 ribu sampai dengan Rp3 juta.

“Untuk yang paling mahal itu tapis dengan motif Ujung Syarat ini bisa mencapai harga jual Rp3 juta, dan waktu pengerjaannya itu bisa sampai dua bulanan lebih karena motif ini benang menutup semua permukaan kainnya, maka dari itu harga lumayan mahal dan pengerjaannya lama," katanya.

Menurutnya, pandemi covid-19 yang melanda dua tahun terakhir, sangat berpengaruh besar terhadap penjualan dan harga jual kain tapis di pasaran, sehingga hal itu membuat banyak warga berhenti membuat tapis.

Biasanya ia mengirim kain tapis  ke toko-toko yang berada di Bandar Lampung, namun dua tahun terakhir ini ia tidak bisa mengirim ke toko karena mereka beralasan barang masih ada di toko.

“Namun kalau saat ini alhamdulillah pesanan sudah mulai banyak lagi, sehingga masyarakat sekitar juga mendapatkan rezeki dari banyaknya pesanan kain tapis," katanya.

EDITOR

Dian Wahyu K


loading...



Komentar


Berita Terkait