#itera#airbersih

Teknologi Sederhana Itera Sulap Laut Jadi Sumber Air Bersih Warga Pesisir

Teknologi Sederhana Itera Sulap Laut Jadi Sumber Air Bersih Warga Pesisir
Warga Pulau Rimau mengoperasikan penyuling air bertenaga surya, baru-baru ini. Dok Itera


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Awal Agustus 2021, hari masih pagi. Puluhan warga Pulau Rimau, Lampung Selatan (Lamsel) mendatangi kantor dusun. Mereka penasaran dengan alat canggih yang dikabarkan bisa mengubah air laut menjadi tawar tanpa baterai maupun listrik. Setiba di lokasi, warga memperhatikan dengan saksama mahasiswa dan dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) yang sedang memperagakan cara memakai penyuling air tersebut. 

"Canggih sekali alat itu, digerakkan hanya oleh sinar matahari. Penyuling itu harapan baru kami," ujar Kepala Dusun Pulau Rimau, Suhendra kepada Lampost.co, pekan kedua Oktober 2021.

Air bersih diakui kepala dusun sebagai kebutuhan utama warga pulau. Selama ini, warga harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dengan menyeberang ke Dermaga Kramat dan Dermaga Muara Pilu. 

Baca: Eva Dwiana Terima Penghargaan Adi Karsa Madya dalam Dies Natalis Ke-7 Itera

 

Warga harus mengeluarkan kocek Rp10 ribu untuk satu galon air. Sementara setiap keluarga membutuhkan setidaknya dua galon air per hari untuk minum dan keperluan memasak.

"Semoga alat ini bisa dikembangkan agar menghasilkan air bersih yang jauh lebih banyak sehingga membebaskan kami dari ketergantungan belanja air galon," kata Suhendra.

Mewakili warga, Kadus menyatakan harapannya agar pemerintah maupun pihak swasta bisa mengembangkan alat tersebut karena dinilai amat mudah dan murah digunakan. Kebutuannya cuma sinar matahari.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Provinsi Lampung Kusaeri Suwandi menyambut baik inovasi itu. Menurut dia, penyuling air tenaga surya memberi manfaat besar bagi warga Pulau Rimau.

"Air itu kebutuhan primer manusia. Warga pesisir banyak yang kesulitan mendapat air bersih," kata dia.

Kusaeri menjelaskan untuk bekal berlayar saja, nelayan membutuhkan bergalon-balon air bersih. Untuk kapal kapasitas di bawah 5 Gross Ton (GT) atau kapal kecil yang hanya dinaiki 2-3 Anak Buah Kapal (ABK) termasuk nakhoda membutuhkan tiga galon air minum. Sementara kapal di atas 6 GT dengan ABK lebih banyak, membutuhkan air bersih seukuran drum besar.

"Mereka harus membeli di dermaga. Harga air minum yang mahal jelas menambah biaya operasional pelayaran," kata dia.

Kusaeri mendorong pengembangan alat itu sebagai sumber air bersih yang bisa menghemat biaya rumah tangga serta ongkos operasional pelayaran kaum nelayan.

"Penyuling tenaga surya itu bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan karena biaya pembelian air galon bisa dipakai untuk tabungan atau keperluan lain," ujarnya.

 

Populasi besar

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung Sutaryono turut mengapresiasi inovasi Itera berupa penyuling air laut tenaga surya tersebut.

Menurut dia, di Lampung terdapat kampung nelayan yang tersebar di delapan kabupaten/kota. Jumlah nelayan berdasarkan by name by address berdasar data Kartu Usaha Pelaku Perikanan (Kusuka) di Bumi Ruwa Jurai sebanyak 19.623 orang.

"Tetapi masih banyak yang belum memiliki kartu itu. Jadi sangat besar populasi warga pesisir yang membutuhkan air bersih," kata dia.

Sutaryono mengatakan, warga di pesisir timur yang jauh dari pegunungan mengandalkan sumur bor atau membeli air galon untuk mencukupi kebutuhan air bersih.

"Selain nelayan, kalangan petambak di Ketapang, Lambuhan Maringgai, Desa Kuala Jaya, juga sangat membutuhkan air bersih. Mereka memang punya sumur gali tapi air yang keluar masih payau," ujarnya. 

Air payau yang didapat biasanya untuk mandi dan mencuci, sementara masak dan minum membutuhkan air galonan.

"Jika inovasi itu dikembangkan, bayangkan, betapa banyak warga yang bisa terbantu mendapat air bersih untuk kehidupannya. Bahkan alat itu amat berpotensi untuk semua warga pesisir di Indonesia, karena kita adalah kepulauan," kata dia.

Dosen pembimbing Prodi Teknik Sistem Energi Itera, Madi mengatakan, alat tersebut karya bersama empat mahasiswa. Pihaknya tergerak membuat penyuling tersebut karena dilatari sulitnya warga pulau mendapat air bersih.

"Air sumur Pulau Rimau kotor. Kami berpikir untuk membuat alat dengan teknologi sederhana yang berpotensi dikembangkan. Tentunya menggunakan teknologi terbarukan," ujarnya.

Madi menjelaskan cara kerja alat tersebut dengan memasukkan air laut di penampungan dari akrilik berbentuk akuarium. Kemudian, dua water heater dicelupkan sebagai pemanas. Garam yang terkandung dalam air laut akan mengendap, dan akhirnya hanya akan menyisakan air tawar. Sumber energi water heater memanfaatkan panel surya.

Inovasi yang dibuat dalam Program Dikti senilai Rp8 juta itu diproses selama tiga bulan. Alat itu kemudian diterapkan ke Pulau Rimau. Pihaknya bertekad mengembangkan kapasitas, geometri, dimensi, spesifikasi alat agar bisa menghasilkan air tawar lebih banyak.

"Penyuling tersebut akan dikompetisikan dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa Pimnas akhir bulan ini. Semoga bisa menang. Harapannya, pemerintah atau swasta bisa mendukung pengembangan alat itu demi kemaslahatan nelayan di negeri ini," kata Madi.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait