bbm

Tarif Tinggi Membuat Masyarakat Enggan Gunakan BBM Ramah Lingkungan

Tarif Tinggi Membuat Masyarakat Enggan Gunakan BBM Ramah Lingkungan
Ilustrasi BBM ramah lingkungan - - Foto: MI/ Panca Syurkani


Jakarta (Lampost.co) -- Tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan menjadi faktor penghambat masyarakat untuk menggunakannya. Hal itu dikatakan, Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto. Menurutnya, jenis BBM tersebut akan mengurangi penggunaan energi fosil dan menciptakan lingkungan sehat.
 
Tarif BBM ramah lingkungan inipun kemudian dikaitkan dengan wacana penghapusan BBM premium dengan Research Octane Number (RON) 88. Jika mengacu standar Euro, RON yang paling baik digunakan ialah BBM dengan RON di atas 91.
 
“Jawaban kompromistis adalah kita naik ke penggunaan RON yang lebih tinggi secara bertahap. Karena ada kelompok kepentingan yang masuk ranah politik, istilahnya adalah politik minyak. Ini adalah fakta yang ada di balik ini semua,” ujarnya dikutip dari Mediaindonesia.com, Jumat, 27 November 2020.

Sugeng menambahkan penggunaan BBM dengan RON tinggi menjadi mutlak untuk diterapkan lantaran Indonesia berkomitmen menerapkan Paris Agreement. Sayangnya, upaya pemerintah untuk menggalakkan penggunaan biofuel masih kurang memadai karena BBM yang berasal dari fosil lebih populer dan lebih mudah terjangkau oleh masyarakat. Ia pun menyarankan penghapusan BBM RON di bawah 90 dapat dilakukan dengan memberikan harga murah.
 
“Setidaknya nanti di 2022 pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM akan menghadirkan Perta Shop di 50 persen desa yang ada di Indonesia. Itu nanti hanya akan menyediakan BBM dengan RON tinggi,” terang Sugeng.
 
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan diperlukan konsistensi pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan penggunaan energi ramah lingkungan. Itu termasuk penggunaan BBM dengan RON di bawah 91. Merujuk data Pertamina, penggunaan BBM RON di bawah 91 masih mendominasi di Tanah Air.
 
Hingga November 2020 misalnya, pertalite RON 90 dikonsumsi hingga 63 persen, diikuti premium RON 88 sebesar 23 persen, pertamax 13 persen dan pertamax turbo satu persen.
 
“Kita memerlukan konsistensi kebijakan dari pemerintah dalam hal ini adalah kementerian ESDM. Tingkat keberadaban kita diuji di sini karena kita masih berkutat pada RON 88,” ujar Tulus.
 

EDITOR

Medcom

loading...




Komentar


Berita Terkait