#eksporimpor#ekonomilampung#beritalampung

Tanaman Hias Lampung Berpotensi Jadi Komoditas Ekspor Besar

Tanaman Hias Lampung Berpotensi Jadi Komoditas Ekspor Besar
Bimbingan teknis ekspor tanaman hias di Kota Metro, Rabu, 3 Agustus 2022. Istimewa


Metro (Lampost.co) -- Komoditas ekspor Lampung memiliki potensi besar untuk terus meningkat. Hal itu lewat penambahan barang-barang yang memiliki daya tarik di luar negeri. Salah satu yang sedang dikembangkan adalah mengekspor tanaman hias.

Subkoordinator Katantina Tumbuhan Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung, Irsan Nuhantoro, menjelaskan tanaman hias Lampung memiliki potensi besar menjadi komoditas ekspor. Hal itu mulai dilakukan sejak 2020 dengan empat kali mengekspor hingga 500 ribu batang. Potensi itu lebih maksimal dengan telah mengekspor hingga 4.000 kali.

“Tanaman hias ini banyak dikembangkan di Lampung dan diekspor melalui daerah di Jawa,” kata Irsan, disela bimbingan teknis ekspor tanaman hias di Kota Metro, Rabu, 3 Agustus 2022.

Namun, pada 14 Agustus nanti, salah satu petani tanaman hias untuk pertama kalinya mulai melakukan ekspor langsung dari Lampung sebanyak 10.500 batang. Dengan ekspor perdana itu, diharapkan bisa memperluas eksportir-eksportir tanaman hias Lampung secara langsung.

“Tanaman hias ini kan banyak dikembangkan rumah tangga dan kami agar rumah tangga itu bisa ekspor langsung. Apalagi harga ekspor lebih besar, bahkan hingga Rp2 juta per batang,” ujarnya.

Menurut dia, pasar tanaman hias paling besar diminta dari Eropa, Amerika, dan negara-negara timur tengah. Bahkan, ada tanaman yang tidak dilirik masyarakat lokal, ternyata laku terekspor. “Tanaman hias di sana untuk rumah-rumah pribadi dan tetap bisa hidup di luar negeri,” ujar dia.

Salah eksportir asal Desa Adipuro, Kecamatan Trimurjo, Lampung Tengah, Margiono, mengatakan menekuni tanaman hias dan kerap mengekspornya melalui rekannya di Bogor. Seiring perkembangan, dia pun berupaya untuk melakukan ekspor secara mandiri.

Di Lampung sejauh ini ada sekitar 50 jenis tanaman hias unggulan yang menarik minat ke pasar internasional.

“Untuk ekspor perdana itu awalnya kami menawarkan 20 jenis aglonema, tetapi Lampung dapat jatah tiga jenis saja dengan masing-masing jenisnya 6.000 batang. Tapi, yang kami kirimkan baru bisa 10 ribuan karena kami juga harus menjaga ketersediaan barang di tempat,” kata dia.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait