#pendidikan#beritalampung

Tak Naik Kelas, 5 Siswa SD di Pesawaran Pecahkan Jendela Sekolah Pakai Ketapel

Tak Naik Kelas, 5 Siswa SD di Pesawaran Pecahkan Jendela Sekolah Pakai Ketapel
Sebanyak lima siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 3 Padang Cermin, Pesawaran, nekat memecahkan kaca jendela sekolah. Hal itu dilakukan setelah diumumkan anak-anak tersebut tidak naik kelas 6. Istimewa


Pesawaran (Lampost.co) -- Sebanyak lima siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 3 Padang Cermin, Pesawaran, nekat memecahkan kaca jendela sekolah. Hal itu dilakukan setelah diumumkan anak-anak tersebut tidak naik kelas 6.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pesawaran, Fauzan Suaidi, mengatakan anak-anak itu memecahkan jendela menggunakan ketapel. Namun, atas tindakan itu pihak sekolah tidak melakukan tuntutan kepada murid dan wali murid.

"Soal kaca yang pecah tidak ada masalah. Kami tidak menuntut, namanya juga anak-anak. Tapi, yang kami tekankan agar caranya anak-anak itu tetap sekolah dan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Kita tidak tahu kalau anak-anak itu nantinya malah jadi orang," kata Fauzan, Selasa, 22 Juni 2021.

Ia mengatakan, persoalan itu telah diselesaikan dengan solusi untuk dididik sesuai kaidah pendidikan. "Masalah ini sudah dikoordinasikan. Anak-anak itu diberi keringanan untuk bisa naik kelas dengan syarat menyelesaikan tugas yang diberikan dulu. Sebab, siswa itu tidak mengerjakan soal saat ujian kenaikan kelas secara daring. Itu alasan sekolah tidak menaikkan kelas siswanya," ujarnya.

Sementara itu, salah satu wali murid, Darman, mengatakan perbuatan yang dilakukan itu hanya bentuk kekesalan dan rasa malu tidak naik kelas. "Pikir mereka kan sudah besar karena mau naik kelas 6. Jadi malu kalau tidak naik kelas. Mereka sempat bilang tidak mau sekolah lagi kalau nggak naik kelas," katanya.

Menurut dia, anak murid yang tidak naik kelas selalu ada tiap tahun. Namun, dengan situasi pandemi saat ini, dia meminta adanya keringanan dari pihak sekolah. 

"Ini kan situasi pandemi covid-19, mereka harus belajar di rumah secara daring, sedangkan di sini susah sinyal. Rata-rata wali murid buruh tani yang tidak semuanya paham teknologi. Untuk itu kami minta adanya keringanan sekolah," kata dia. 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait