#TagihanListrik#PLN#Kalianda

Tagihan Listrik Warga Membengkak, Begini Penjelasan PLN Kalianda

( kata)
Tagihan Listrik Warga Membengkak, Begini Penjelasan PLN Kalianda
Dok Lampost.co


Kalianda (Lampost.co) -- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)  Unit Layanan Pelanggan Kalianda, Lampung Selatan memberikan penjelasan  terkait keluhan masyarakat pelanggan listrik yang mengalami pembengkakan biaya pemakaian listrik hingga tiga kali lipat.

Humas PT PLN (Persero) ULP Kalianda kabupaten Lampung Selatan Junarwin mengatakan kemungkin pelanggan ini merupakan pelanggan  900 VA bersubsidi yang kemudian subsidinya dihapus. Hilangnya subsidi bisa membuat tagihan rekening listrik membengkak.

"Pelanggan subsidi adalah masyarakat yang masuk di Base Data Terpadu TP2K pemerintah pusat," kata Humas PT PLN (Persero) ULP Kalianda, kabupaten Lampung Selatan, Junarwin, kepada Lampost.co, Senin, 27 Januari 2020.

Menurutnya, tidak semua pelanggan  R1 mendapatkan subsidi. Hanya pelanggan R1 450 VA dan 900 VA yang mendapatkan subsidi, sedangkan untuk R1 1300 VA keatas, temasuk tarif R2 sudah tidak mendapatkan subsidi lagi. "Naik turunnya nilai tagihan tergantung dari pemakaian listrik.

Tagihan rekening listrik pascabayar, dihitung berdasarkan pemakaian pelanggan (selisih stand/angka pada kWH meter saat ini dikurang stand akhir bulan lalu)," jelasnya.

Untuk itu, Junarwin meminta pelanggan mengawasi pemakaian listrik, agar tagihan listrik tak membengkak. "Agar tagihan tarif listrik tak membengkak,  pelanggan bisa melakukan evaluasi dengan mengecek meteran listrik tiap bulan, dan bandingkan pemakaian bulan lalu dengan bulan ini," ujarnya.

Sebenarnya, besarnya tagihan listrik rumah tangga sebenarnya bukan hanya disebabkan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang memang hampir tidak pernah turun dari waktu ke waktu.

Di luar itu, ungkap Junarwin, harus diakui dan tanpa disadari adanya berbagai perilaku yang mengakibatkan pemborosan listrik.

Diantaranya pemasangan  saklar otomatis untuk mematikan pompa air membuat meteran listrik naik. Pemakaian rice cooker yang terus-menerus juga menjadi penyebab borosnya listrik.

Dijelaskan, jika dalam sehari rice cooker memanaskan nasi selama 10 jam, maka pemakaian listrik pada rice cooker adalah 77 Watt x 10 jam/hari x 30 hari/bulan = 23,1 kWh per bulan. Ini artinya, untuk penggunaan rice cooker membutuhkan biaya sekitar Rp34 ribu. Namun jika colokan rice cooker dicopot, maka pengeluaran akan lebih hemat.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk membiasakan berperilaku hemat listrik. Seperti mencabut kabel-kabel yang terpasang di saklar yang tak digunakan.

"Biasanya kabel-kabel yang terpasang seperti kabel charger ponsel, kabel charger laptop, kabel tv, kabel penanak nasi dan beberapa kabel lainnya. Karena kabel yang terpasang, berarti listriknya terbuang sia-sia dan tanpa disadari membuat tagihan listrik membengkak," pungkasnya.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...


Berita Terkait



Komentar