#Tambakudang

Swadaya, Petambak Udang Bangun Pintu Air Bendungan Rp 1 Miliar

Swadaya, Petambak Udang Bangun Pintu Air Bendungan Rp 1 Miliar
Pembangunan pintu air bendungan tambak udang di Kampung Bumisentosa, Kecamatan Rawajitu Timur, Tulangbawang, yang menelan anggaran Rp1 miliar lebih akhirnya selesai. Dok


MENGGALA (Lampost.co) -- Pembangunan pintu air bendungan tambak udang di Kampung Bumisentosa, Kecamatan Rawajitu Timur, Tulangbawang, yang menelan anggaran Rp1 miliar lebih akhirnya selesai. Dana pembangunan berasal dari gotong royong atau dana investasi para petambak yang tergabung dalam Perhimpunan Petambak dan Pembudidaya Udang Wilayah (P3UW) Lampung. 

Ketua P3UW Lampung, Suratman mengatakan pembangunan pintu air di Blok 0 Kampung Bumisentosa itu dimulai sejak akhir tahun lalu atau sekitar 165 hari pengerjaannya dan menelan anggaran Rp1.160.714.000. 

Dia mengaku, seluruh dana pembangunan pintu air dengan panjang 40 Meter, lebar sembilan meter, dan memiliki tiga pintu air itu berasal dari hasil gotong royong para petambak setempat. Selain itu, pengerjaan bangunan yang telah diresmikan, Minggu, 28 Maret 2021 juga dilakukan bergotong royong.

"Dananya murni bersumber dari swadaya petambak dengan cara iuran Rp1000 per kilogram dikalikan jumlah tonase setiap panen udang. Dananya dikumpulkan di tiap RT melalui badan pengurus RT atau disebut Badan Pengurus Tetangga (BPT)," kata Suratman, kepada Lampost.co, Senin, 29 Maret 2021.

Nyaris 10 tahun, kata Suratman, petambak yang berada di paling selatan Kecematan Rawajitu Timur berbatasan dengan Sungai Tulangbawang itu tidak memiliki pintu air, karena harus bergabung dengan Blok l. 

Ia menjelaskan, sirkulasi keluar masuk air laut di pintu air 0 itu menggunakan sistem manual seperti sistem irigasi persawahan yang nantinya akan difungsikan untuk mengairi 90 haktare lahan, terdiri 70 haktare lahan tambak dan 20 haktare lahan tandon penampungan air atau treatment pond.

Dengan adanya pintu air 0, diharapkan dapat mendongkrak hasil panen budidaya udang vaname petambak setempat hingga mencapai tiga kali lipat, karena bendungan atau DAM lansung mengambil air dari laut. 

Sebab sebelum adanya pintu air, hasil panen hanya mencapai empat hinga lima ton. Dengan peresmian pintu air itu, ujar dia, menjadi pembuktian keseriusam petambak dipasena dalam merevitalisasi infrastruktur perairan budidaya secara mandiri. 

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait