#bankindonesia#ekbis

Suku Bunga Acuan Diproyeksi Dinaikkan pada Akhir 2022

Suku Bunga Acuan Diproyeksi Dinaikkan pada Akhir 2022
Bank Indonesia (BI). Foto: MI/Usman Iskandar


Jakarta (Lampost.co) -- Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate pada akhir 2022. Hal ini sebagai langkah antisipasi bank sentral terhadap perkiraan tekanan inflasi yang bakal terjadi pada 2023 imbas kebijakan moneter yang ekspansif.

Gubernur BI Perry Warjiyo akan terus mengantisipasi dengan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik.

"Kenaikan suku bunga masih di penghujung 2022, tentu kami perlu mengkalibrasi kembali di samping terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," ujar Perry dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Senin, 30 Agustus 2021.

Perry menjelaskan, nantinya akan terdapat pengurangan likuiditas pada tahun depan. Namun, ia memastikan hal tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit.

"Kami yakin pengurangan injeksi likuiditas pada tahun depan tidak akan mengurangi pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit," tegasnya.

Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter yang longgar sejak adanya pandemi covid-19 di awal tahun lalu. Bank sentral aktif memberikan stimulus moneternya, mulai dari pemangkasan suku bunga acuan hingga menggelontorkan likuiditas di pasar atau quantitative easing.

Untuk suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate, Bank Indonesia memangkas sebanyak 125 basis poin (bps) dalam satu tahun terakhir. Saat ini suku bunga acuan berada di level yang terendah sepanjang sejarah, yakni 3,50 persen.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga menambah likuiditas di perbankan sebesar Rp114,15 triliun pada 2021 (hingga 16 Agustus 2021). Pada tahun lalu, bank sentral juga telah menginjeksi likuiditas ke perbankan sebanyak Rp726,57 triliun.

Meskipun dengan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga acuan di akhir 2022, Perry tetap memastikan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar, dan inklusi keuangan pada 2022 akan tetap diarahkan untuk pertumbuhan ekonomi nasional.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait