#PasarSMEP

Sudah Bayar Uang Muka, Pedagang Pasar SMEP Tagih Janji Dapat Lapak

Sudah Bayar Uang Muka, Pedagang Pasar SMEP Tagih Janji Dapat Lapak
Tini, pedagang di pasar Smep berharap nanti pihak pemerintah memprioritaskan pedagang lama untuk mendapatkan lahan lapak. Lampost.co/Atika


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sejumlah pedagang menceritakan bagaimana janji yang dituangkan oleh Direktur PT Prabu Artha Ferry Sulistyo alias Alay, dimana jika membayar uang muka akan mendapatkan lapak di pasar SMEP.

"Teringat lima tahun lalu, almarhum ibu saya tergesa-gesa mengajak saya untuk membawa seluruh emasnya, dan dijual ke toko emas. Uang sebanyak Rp75 telah dicairkan untuk diberikan ke Alay dengan dalih janji akan mendapatkan lapak pasar," kata Sukirman kepada lampost.co, Rabu, 24 Februari 2021.

Baca juga: Uang Setoran Pedagang ke Pengembang Pasar SMEP Rp25 Miliar

Ia melanjutnya, uang Rp75 juta yang dicairkan tersebut tak serta merta langsung diberikan ke Alay, namun mendapatkan tanda bukti berupa kwitansi bermaterai. Sayangnya, janji hanyalah janji, uang yang diberikan almarhum ibunya harus hilang bahkan hingga sekarang lapak pun tak diberi.

"Akhirnya setelah ibu saya meninggal, kami anaknya yang melanjutkan usaha ini. Sekarang kami menyewa ruko. Nanti saat pasar ini jadi, kami gak tau juga ruko tempat kami sewa ini direlokasi atau tidak. Yang jelas kami juga masih bingung bagaimana nasib kami berdagang," kata dia yang berdagang bumbu giling.

Mengenai uang yang telah diberikan ke Alay, ia mengatakan masih memperjuangkan hanya saja masih tak mendapatkan kejelasan. "Kalau dinas kan memang katanya gak bisa tanggung jawab, jadi kami harus ke Alay langsung. Tapi gimana mbak kan di penjara sekarang Alaynya," katanya.

Di lain tempat, pedagang bahan pokok di Smep mengatakan bahwa lima tahun lalu tepah melakukan pembayaran uang muka senilai Rp35 juta, namun saat ini belum mendapatkan kepastian akan mendapatkan jatah kios.

"Itu kasus lima tahun lalu, mau menuntut juga sudah tidaj bisa. Jadi ya mau tidaj mau saya ikhlas saja, tapi sayangnya saat pembangunan pasar ini malah tambah terpuruk, karena tertutup kan jalannya, jadi sepi banget," keluh Tini.

Ia berharap, pihak dinas dapat memprioritaskan pedagang lama untuk mendapatkan kios nanti baru memasukkan pedagang baru. Sebab, jika pedagang lama tak mendapatkan jatah lapak akan kebingungan untuk berdagang dimana.

"Belum ada pikiran kalau saya ini gak dapat jatah kios, pernah didata tapi sampai sekaramg belum ada omongan lagi. Semoga saja ada jawaban ini bagaimana nasib kami yang dagang," kata dia.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait