#SUBSIDI#KEDELAI

Subsidi Kedelai Tidak Menyentuh Semua Perajin Tahu-Tempe

Subsidi Kedelai Tidak Menyentuh Semua Perajin Tahu-Tempe
Tempe siap jual di salah satu rumah produksi di Telukbetung Selatan. Lampost.co/Putri Purnama


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Program Bantuan Penggantian Selisih Harga Pembelian Kedelai dari Kementerian Perdagangan tidak dirasakan oleh seluruh perajin tempe-tahu di Lampung. Bahkan beberapa mengaku tidak tahu ada program subsidi kedelai itu.

Salah satunya disampaikan Yanti (67), perajin tempe di Sentra Listrik, Gedong Pakuon, Telukbetung Selatan. Ia mengaku tidak pernah merasakan subsidi potongan dari Kementerian Perdagangan itu.

"Nggak tahu kalau ada subsidi itu, mungkin buat pengusaha yang produksinya banyak saja. Kalau kami perajin kecil, nggak pernah tahu ada yang seperti itu," ujarnya, Rabu, 05 Oktober 2022.

Yanti mengatakan saat ini harga kedelai per kilogramnya Rp13.100, tertinggi selama ia menjadi perajin tempe. Akibatnya, rumah produksi tempe Yanti harus libur ketika stok kedelai di gudangnya habis. "Kalau tetap produksi ya kami merugi, soalnya biaya produksi jauh lebih besar dibandingkan pendapatan kalau harga kedelai sedang tinggi seperti ini," kata dia.

Yanti mengatakan, jika harga kedelai tak kunjung turun maka usaha yang sudah digelutinya selama 45 tahun terancam tutup. Pasalnya, harga kedelai yang terus melonjak tidak sebanding dengan daya beli masyarakat yang justru menurun.

"Kalau nggak stabil ya sudah kami tutup, bangkrut, kembali ke Jawa saja bertani. Harganya nggak masuk akal ya. Harga mahal, naik, tapi kualitas kedelai turun, di pasar sepi. Apa lagi yang diharapkan?," ujarnya.

Perajin lainnya, Nurhasanah juga mengeluhkan mahalnya harga kedelai dan sepinya penjualan tempe di pasaran. Kondisi itu membuat para perajin tempe  terancam bangkrut alias gulung tikar.

"Harapan kami cuma pemerintah, nggak ada harapan lain. Karena harga kedelai ini ya yang bisa naikan, turunkan, ya pemerintah. Kalau masalah subsidi itu, kami nggak tahu ya, bagaimana cara dapatnya juga nggak tahu," kata dia.

Nurhasanah berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga kedelai seperti keadaan minyak goreng sebelumnya. Jika tidak, maka satu per satu perajin tempe-tahu di Lampung akan hilang.

"Dulu waktu minyak goreng nggak ada, pemerintah bisa mengatasinya. Nggak sampai bertahun-tahun kayak kedelai ya. Ini kedelai sudah dari 2019 naiknya, tapi nggak ada solusi," ujar dia.

EDITOR

Deni Zulniyadi


loading...



Komentar


Berita Terkait