#sosok

Stok Pangan di Lampung Aman

Stok Pangan di Lampung Aman
Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung Ferynia. Dok. Lampung Post


SEJAK memasuki Ramadan dan Idulfitri, sejumlah komoditas di pasaran harganya terus merangkak naik. Bahan-bahan kebutuhan pokok makin tidak terkendali. Kondisi tersebut dikeluhkan bukan hanya oleh pembeli, melainkan juga para pedagang.
Berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, pada 2 Juni lalu, menyebutkan bahwa inflasi di Mei naik sebesar 0,39%. Kenaikan tersebut disumbang paling banyak oleh komoditas bawang putih dan cabai merah.
Lantas, bagaimanakah dinas dan satuan kerja terkait mengendalikan bahan kebutuhan pokok tersebut agar kembali normal, serta menjamin ketersediaan pangan di Lampung. Berikut petikan wawancara wartawan Lampung Post Nur Jannah dengan Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung Ferynia, didampingi Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Ofrial, di Balai Keratun, kompleks kantor Gubernur, Selasa (6/5/2017).

Sejak memasuki Ramadan sejumlah harga kebutuhan pokok di Lampung mengalami kenaikan bahkan ada beberapa komoditas yang mengalami fluktuasi harga, bagaimana cara dinas untuk menstabilkan harga tersebut?

Kami tim dari Provinsi Lampung memiliki 40 pasar murah bersubsidi dan 14 kabupaten/kota, masing-masing memiliki pasar murah bersubsidi. Kami juga secara simultan selalu berhubungan langsung mengadakan rapat, teleconference dengan tim pengendalian inflasi daerah (TPID) dalam rangka pemantauan harga dan ketersediaan pangan, serta alhamdulillah sampai sekarang semua tidak ada masalah. Fluktuasi harga terjadi cenderung di awal-awal Ramadan dan makin ke sini makin landai, dan biasanya akan kembali terjadi lonjakan mendekati Lebaran.

Bagaimana cara mengantisipasi lonjakan harga-harga jelang Lebaran?

Pemerintah Pusat untuk penyanggahan harga dari TPID dengan Bulog. Bulog sekarang ini sampai bawang saja mereka punya (stok), tidak hanya bawang putih, telur, daging, cabai merah, mereka punya. Sekarang tinggal bagaimana kabupaten/kota minta atau tidak. Kalau harga tinggi, misalnya daging minta didatangkan, daging dari Bulog akan langsung diluncurkan, bergantung permintaan. Kalaupun Bulog kurang, mereka bisa mengambil langsung dari Jakarta. Jarak Jakarta—Lampung cukup dekat sehingga cukup terjangkau.

Kapan dilakukan pasar-pasar murah untuk warga?

Pasar murah dimulai dari seminggu sebelum puasa sampai H-10 Lebaran yang tersebar di berbagai wilayah, tempatnya berbeda-beda. Untuk kabupaten/kota mereka tetap berlanjut.

Bagaimana dengan Satgas Pengendalian Pangan, kapan tim ini turun untuk meninjau harga di pasaran?

Satgas Pangan yang dipimpin oleh Kapolda bersama dengan instansi terkait, tim ini dibentuk untuk mengantisipasi puasa dan Lebaran. Tim ini bisa sewaktu-waktu turun dalam rangka pemantauan harga.

Bagaimana dengan banyaknya barang-barang di sejumlah komoditas yang tidak layak jual beredar di pasar. Apa tindakannya?

Apabila ditemukan barang yang tidak layak jual prosesnya bisa sampai pidana, tim satgas pangan ini anggotanya lengkap dari pertanian, kepolisian, Dinas Peternakan, Dinas Ketahanan Pangan, sampai ke Balai POM juga ada di dalamnya.

Lalu, bagaimana tanggapan Anda dengan rilis BPS yang mengumumkan bahwa penyumbang terbesar inflasi berasal dari komoditas cabai dan bawang putih. Apakah di Lampung mengalami kekurangan kedua komoditas tersebut?

Itu yang masih kami dalami, bagaimana cara mereka melakukan penilaian, baik dari provinsi, Dinas Perdagangan, maupun Dinas Ketahanan Pangan selalu melakukan pemantauan harian. Ketika inflasi disumbang oleh kedua komoditas tersebut, itu yang akan dipertanyakan. Nanti ada rapat lanjutan bersama dengan ketua TPID, bisa jadi penyumbang inflasi belum pasti disumbang oleh kedua komoditas tersebut.
Jika inflasi harga naik tetapi konstan itu tidak menyumbang inflasi. Namun, ketika harga fluktuatif itu yang menyebabkan inflasi. Oleh karena itu, kami punya gambaran, karena berdasarkan laporan dari tim TPID, harga stabil dan pasokan juga tidak ada masalah, ketersediaan juga cukup. Tidak ada yang tidak ada di Lampung, walaupun bawang putih tidak diproduksi di Lampung, ketersediaannya cukup.

Lalu, bagaimana dengan prediksi harga oleh dinas perdagangan?

Kami punya acuan harga, misalnya bawang putih itu Rp38 ribu/kg. Beberepa kabupaten, bawang putih harga masih berkisar Rp46 ribu/kg. Untuk itu, kami minta kepada Bulog sampai dengan September, sepanjang harga di pasaran bawang putih belum Rp38 ribu/kg, Bulog terus mengintervensi.
Kemarin, Bulog sudah mendatangkan 3 ton bawang putih, lalu habis. Nah, ini sudah habis lagi lalu didatangkan 10 ton, kalau habis, akan didatangkan lagi. Bulog setiap saat bisa melakukan pemesanan. Tidak hanya bawang putih, tetapi juga daging, minyak goreng, beras, telur, dan cabai. Di luar itu Bulog juga bisa melakukan pembelian.
Selain acuan bawang putih, acuan harga daging di Lampung senilai Rp80 ribu/kg, minyak Rp11 ribu/kg, gula Rp12.500 ribu/kg, dan telur Rp22 ribu/kg. Kalau di pasar harganya belum segitu, Bulog terus mengintervensi. Jadi, kalau ada kekurangan, tinggal lapor nanti akan didatangkan.
 

Biodata

Nama : Ferynia

Kelahiran: Tanjungkarang, 8 Februari 1961

Alamat : Jalan Dr Harun, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung

Jabatan : Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung

EDITOR

Nur Jannah

loading...




Komentar


Berita Terkait