#rektorunila#suap#korupsi#ott#kpk

Status Mahasiswa Baru Unila Jalur Suap Disebut Dilematis

Status Mahasiswa Baru Unila Jalur Suap Disebut Dilematis
Rektor Unila Karomani saat berada di Gedung KPK. Dok MI


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pengacara sekaligus pengamat hukum pidana Sopian Sitepu menjelaskan warga negara Indonesia (WNI) yang telah menjadi tersangka bisa berubah status jika ada bantahan yang berdasarkan hukum atas bukti. 

"Pandangan saya sebagai advokat, pada kasus Karomani (Rektor Unila), semua bukti permulaan belum valid. Semua itu masih bisa berubah atau tidak bernilai bukti apabila ada bukti lain atau ada bantahan yang berdasar hukum atas bukti," ujarnya, Minggu, 21 Agustus 2022.

Baca: Jadi Celah Suap, Begini Alur Masuk Jalur Mandiri Mahasiswa Baru Unila

 

Sopian membenarkan, Karomani dan tiga nama lainnya yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu ditetapkan sebagai tersangka karena telah cukup alat bukti. Namun, perkara itu masih dalam tahap awal, proses pemeriksaannya masih cukup panjang. 

"Berdasarkan hal tersebut, KPK memiliki kewenangan untuk menahan tersangka. Kalau untuk orang yang melanggar hukum seperti AD (penyuap) bisa juga ditetapkan tersangka kalau dua alat buktinya terpenuhi," katanya. 

Sementara itu mengenai status mahasiswa baru (maba) yang terbukti masuk melalui jalur suap, Sopian mengatakan hal itu sangat dilematis. 

"Tentang status mahasiswa yang sudah telanjur lulus, sangat dilematis. Perlu data yang akurat sekali. Karena hal ini bisa terjadi ketika orang tua yang memberi uang ini ingin kepastian masuk Unila," katanya. 

Sopian berharap Unila bijak dalam menangani kasus tersebut, baik masalah status mahasiswa yang terbukti masuk dengan jalur suap maupun prosedur penerimaan mahasiwa lainnya. 

"Harus ada perbaikan baik dari sistem maupun yang lainnya," ujar dia. 

EDITOR

Sobih AW Adnan


loading...



Komentar


Berita Terkait