sidangDPO

Status DPO dan Barang Bukti Syamsul Arifin Jadi Perdebatan dalam Sidang

Status DPO dan Barang Bukti Syamsul Arifin Jadi Perdebatan dalam Sidang
Lampost.co/Febi Herumanika


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Perdebatan di dalam ruang sidang atas nama terdakwa Syamsul Arifin kembali terjadi, Selasa 10 November 2020. Jaksa dipersidangan menghadirkan saksi penangkapan dari pihak kepolisan atas nama Rahmad Mardian.

Awalnya, persidangan berjalan lancar, perdebatan itu berawal saat hakim ketua Jhonny Butarbutar kembali membahas mengenai berkas dakwaan yang didalamnya tidak ada barang bukti yang dilampirkan, namun Jaksa bersekukuh bahwa berkas barang bukti telah dilimpahkan secara bersamaan.

" Yang pernah timbul bukti dibelakang, azaz KUHAP adalah perduga tak bersalah, sudah saya sampaikan berulang bahwa jika ada bukti dilampirkan didalam berkas dakwaan tetapi ini tidak ada. Kalau pun helikopter jadi buktinya, tidak mungkin dihadirkan disini tetapikan bisa difoto, nah ini tidak ada dalam berkas," kata Hakim Jhoni.

Perdebatan semakin memanas saat kuas hukum terdakwa Syamsul Arifin, Jono Parulian Sitorus dan David Sihombing mempertanyakan berkas asli status DPO dari terdakwa, menurut saksi berkas yang dibawa hari ini asli. Namun kuas hukum bersikukuh bahwa berkas itu bukan asli karena melihat dari cap nya berwarna hitam.

" Apakah saudara pernah melihat aslinya dari berkas status DPO dari terdakwa ini, dan sudah sejak kapan saksi melihat berkas status DPO ini," kata Kuas hukum terdakwa.

" Ini berkas sudah 7 tahun lalu 
Menurut saya ini asli karena tidak mungkin ada ini kalau tidak ada aslinya kata saksi," kata Saksi Rahmad Mardian.

Saksi mengakui bahwa dia tidak pernah melihat aslinya dari berkas DPO dari terdakwa, " Saya belum pernah melihat dan ini saya lihat di arsip. Sejak 3 bulan seblum pengakaoan yang lalu," kata saksi.

apakah Adakah orang yang membiayai perkara ini? Tanya pengacara dari terdakwa, saksi menjawab, "tidak ada kalau dibiaya negara iya," kata saksi lagi.

Penasehat hukum kembali menanyakan kepada saksi, apakah sebelum berangkat ke Jakarta untuk melakukan penangkapan terhadap terdakwa, saksi pergi seorang pengacara,? Tanya penasehat hukum terdakwa.

Mendapat pertanyaan tersebut majelis hakim kembali berucap,  Silakan bertanya tapi jangan berasumsi, kalau ada faktanya ditunjukkan. Jangan asumsi dulu baru fakta," kata Hakim Jhonny.

Didalam uraian dakwan jaksa tidak ada status DPO dari terdakwa ini, Karena jaksa tidak pernah mencantumkan status DPO didalam berkasnya.

Selain itu kata pengacara Syamsul, didalam berkas ini tidak ada hp sebagai barang bukti yang dihadirkan hari ini. Dan mereka tidak menginginkan perkara ini mengarah ke perkara lain.

"Jangan bersikap arogan, Setiap sidang debat terus bebat terus sesuai fakta," kata hakim.

Jaksa kembali menanggapi pernyataan dari kuas hukum, bahwa barang bukti itu saat pelimpahan ada di meja panitera.

Hakim kembali mengatakan mengapa barang bukti tidak dikaitkan di dalam berkas dakwaan, "Kenapa tidak dikaitkan ini," kata hakim.

Persoalan hp yang disita untuk mengungkap kebenaran apakah betul Syamsul Arifin tidak mengenal Napoli selaku pelapor kasus ini, " itu saya jamin 5000% terdakwa ini kenal dengan Napoli, kalau ada fakta lain kenapa tidak dimasukan berkas," kata Hakim Jhonny.

Usai sidang Jaksa Penuntut Umum Andrie W Setiawan menjelaskan, bahwa didalam sistem pengadilan barang bukti sudah tercatat dan telah diserahkan.

" Tanyakan pada sistem pada saat pelimpahan apakah barang bukti itu ada di pengadilan," kata Andrie.

Mengapa tidak disatukan didalam berkas,? Sistemnya ada disini, pada saat pelimpahan berkas dan terdakwa diserahkan Kepa panitera dan dikembalikan lagi.

Disinggung apakah jaksa bisa menghadirkan berkas DPO yang asli di persidangan nantinya,? Dengan hadirnya dari pihak kepolisan sudah menerangkan pernyataan yang sah.

" Pertanyaan saya mungkin tidak pihak kepolisan menjalankan tugas dengan surat palsu," kata Andrie.

 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait