#premium#bbm#pengecor#beritalamsel

SPBU Penengahan Diduga Kongkalikong dengan 'Pengecor' Premium

SPBU Penengahan Diduga Kongkalikong dengan 'Pengecor' Premium
Antrean panjang di SPBU) 21.101.02 ruas jalinsum Desa Kekiling, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan diduga para pengecor BBM jenis premium, Selasa (6/8/2019). Lampost/Aan Kridolaksono.


KALIANDA (Lampost.co) -- Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 21.101.02 ruas jalan lintas Sumatera, Desa Kekiling, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, diduga berlaku lancung. SPBU dituding berkongkalikong dengan `pengecor` premium.

Akal-akalan pengelola SPBU itu sudah menjadi rahasia umum. Warga sudah sering mengadu, tapi tak digubris.

"Setiap akan isi Premium di SPBU selalu kehabisan. SPBU lebih mengutamakan menjual ke pengecor," kata Angga, 26, warga yang hendak mengisi BBM di SPBU jalinsum Desa Kekiling, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, itu, Selasa sore, 6 Agustus 2019.

Kekecewaan serupa juga diungkapkan seorang warga dengan kendaraan roda empat. Menurutnya, setiap mengisi kendaraan dengan BBM jenis Premium selalu diarahkan ke BBM jenis Pertalite atau Pertamax.

Pegawai SPBU, jelasnya, beralasan Premium masih dalam perjalanan. Padahal, dia melihat, pegawai SPBU membuka mesin BBM Premium untuk konsumen khusus yang diduga pengecor (penjual pengecer). "Mereka memilih menjual bensin ke pedagang karena ada upah cornya," ungkapnya.

Warga sekitar pom bensin milik Pertamina itu mengatakan, praktik pegecoran Premium sudah berlangsung lama. Menurut mereka, pegawai SPBU mengantongi upah cor Rp5.000 per 30 liter Premium.

"Premium di SPBU itu sudah pasti kosong untuk pelanggan umum," ungkap warga yang enggan disebut namanya.

Asrofi, Manager SPBU 21.101.02, tak mau menanggapi keluhan masyarakat. Padahal pihak SPBU mengetahui tindakan tersebut melanggar Pasal 55 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas.

EDITOR

Aan Kridolaksono

loading...




Komentar


Berita Terkait