#VirusKorona#IbadahHaji

Solidaritas Virus

( kata)
Solidaritas Virus
Masjidil Haram di Mekkah. Foto: AFP/Abdel Ghani Bashir

 Iskandar Zulkarnain

Wartawan Lampung Post

IBADAH haji tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2020 atau 1441 Hijriah hanya diikuti sekitar 10 ribu jemaah dari berbagai negara. Penyebabnya adalah karena pandemi Covid-19 yang kini masih menghantui penduduk dunia. Dalam keadaan normal saja, puncak haji di Padang Arafah, Arab Saudi itu, mencapai 2,5 juta orang.

Negara Petro Dolar itu tidak ingin dua kota suci Mekah dan Madinah akan menjadi klaster baru penyebaran virus corona. Arab Saudi memberlakukan protokol kesehatan sangat ketat bagi jemaah yang menjalani ibadah haji. Seperti  tawaf (mengeliling Ka’bah), sai (berjalan dari Safa dan Marwah), wukuf di Arafah, serta bermalam di Muzdalifah, serta melempar jamrah.

Pertama kali dalam sejarah modern, Kerajaan Arab Saudi melarang jemaah haji internasional menunaikan rukun Islam kelima (haji) di tengah pandemi. Tahun ini dibatasi hanya 10 ribu. Kasus positif virus corona di Arab Saudi tercatat lebih dari 270 ribu dengan pasien meninggal tembus 3.000 orang. Saudi adalah salah satu negara kasus tertinggi di Timur Tengah.

Beruntungnya, ibadah haji tahun ini, Indonesia diwakili 13 warga negara Indonesia (WNI) hasil seleksi pihak kerajaan. Anak-anak bangsa yang terpilih itu, menurut Kementerian Haji Arab Saudi, adalah ekspatriat yang bermukim di Saudi dari 160 negara melalui seleksi daring. Luar biasa!

Untuk berhaji, Saudi meloloskan ekspatriat berusia antara 20 dan 50 tahun, tidak sedang sakit, tidak menunjukkan gejala Covid-19, serta belum pernah berhaji. Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel merasa bersyukur 13 WNI mewakili negara yang diterima dan ikut ritual ibadah. Sehingga mereka bisa berbagi informasi haji pandemi untuk Tanah Air.

Menurut Maftuh, mayoritas dari 13 anak bangsa itu berjenis kelamin laki-laki dan berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, yakni Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, juga dari Jawa Barat. Mereka terdiri 10 laki-laki dan tiga wanita yang merupakan representasi dari 231 ribu jemaah haji Indonesia.

Anak bangsa yang berjumlah 13 orang yang mendapat panggilan dari Allah swt., itu menyaksikan kondisi Jabal Rahmah di Padang Arafah saat puncak ibadah haji, Kamis (30/7). Tidak pernah terbayang tanpa jemaah. Televisi pun menayangkan, Arafah yang biasanya disesaki jutaan manusia, hari itu, lengang. Jalan-jalan kosong. Hanya ada tenda di sekitar Masjid Namirah.

Di antara 10 ribu jemaah haji itu, ada anak bangsa bernama Ata Yahra dan Irma Tazkiyya yang ikut mengumandangkan kalimat talbiah–memenuhi panggilan Tuhan. "Allah menyayangi saya, terpilih mengikuti haji khusus ini,” kata Ata berlinang sambil menyeka air matanya saat melakukan tawaf.

Seperti jemaah lainnya, anak bangsa Irma mengikuti masa karantina empat hari di hotel di Mekah yang ditetapkan Kementerian Umrah dan Haji Arab Saudi. "Ini semua berkah dan panggilan Allah pada saat pandemi Covid-19," tutur Irma melalui suaminya Afnan yang bekerja di KJRI di Jeddah.

Dikutip BBC News Indonesia, WNI berhaji hasil seleksi daring itu terharu karena digratiskan  Kerajaan Saudi. Padahal biaya haji berkisar 7.000—13 ribu riyal (Rp27 juta—Rp50 juta). Saudi juga mengumumkan siapa pun yang berada di Mekah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina tanpa izin pada masa haji tahun ini, didenda 10.000 riyal (Rp38 juta).

***

Yang jelas Covid-19 menakutkan, meluluhlantakkan perekonomian dunia. Karena belum ditemukan vaksinnya. Tapi mengapa saat wabah SARS dan MERS, ibadah haji tetap berjalan, sedangkan corona–Arab Saudi bertekuk luntut–menutup rapat-rapat Kota Mekah dan Madinah dari penziarah.

SARS mewabah dunia pada 2002—2004, dan tidak berjangkit pada musim haji. Begitu juga MERS, sehingga tidak ada protokol kesehatan khusus bagi jemaah haji pada saat itu. Sumber virus MERS diduga dari hewan unta maka itu jemaah haji cukup mendapatkan suntikan flu dan meningitis.

Terkait virus MERS, Profesor Tjandra Yoga Aditama, Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, angkat bicara. MERS mewabah pada awal 2010. “Pada 2015, memang ada kekhawatiran terjadi penularan MERS terhadap jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Tapi waktu itu, jemaah haji tetap diberangkatkan," kata dia.

Dan corona memberikan pelajaran yang berharga bagi penduduk dunia. Enam bulan virus itu mewabah–datang dari Kota Wuhan, Tiongkok, sudah mempngaruhi hidup manusia. Banyak kesulitan menghadang rakyat. Soal keagamaan, sosial, juga ekonomi. Hari Iduladha mengajarkan pengorbanan— solidaritas sesama anak bangsa agar tetap produktif, aman dari Covid-19.

Di tengah kesulitan itu, muncul seorang anak bangsa yang menyelamatkan negara ini dari wabah corona. Dia adalah Profesor Hadi Pranoto, penemu herbal antibodi Covid-19. Peneliti Indonesia yang berumur 43 tahun ini sudah meneliti corona sejak 20 tahun lalu. “Bahan baku herbal dari tanah tua–Jawa yang mampu menyembuhkan pasien corona,” kata Hadi.

Profesor yang memimpin riset bakteri dan virus itu mengaku tidak begitu kesulitan menghadapi “tekanan” dari badan kesehatan dunia. Karena memang hasil temuan—herbal ini dibagikan gratis untuk rakyat Indonesia. Saat ini Hadi bersama timnya mampu memproduksi 100 ribu botol herbal dalam sehari. Obat itu dikemas dalam botol berukuran 100 mililiter.

Dalam perbincangan di Tegal Mas, Kamis (30/7), Sang Profesor optimistis bisa membebaskan Indonesia dari wabah. Hadi bertekad ingin menyelamatkan bangsa ini dari Covid-19 ketimbang menumpuk harta kekayaan. Banyak pengusaha ingin bekerja sama, membisniskan herbal–hasil temuannya. Tapi dia memilih ibadah menggratiskan membantu kesulitan rakyat.

Saatnya Hadi bersama tim menggalang solidaritas bangsa untuk sama-sama menangkal wabah corona dari bumi pertiwi. Produksi herbal besar-besaran untuk bangsa agar ekonomi cepat pulih. Catat! Hingga kini belum ada negara di dunia ini berani mengklaim menciptakan vaksin, tapi anak Indonesia sudah menemukan herbal antibodi Covid-19.  ***

EDITOR

Abdul Gafur

loading...

Berita Terkait

Komentar