SoekarnoBuku

Soekarno dan Buku

Soekarno dan Buku
dok Pixabay


Wandi Barboy, Wartawan Lampung Post

DI tengah pandemi seperti saat ini, meluangkan waktu untuk membaca buku barangkali bisa menjadi berkah dan hikmah. Buku adalah jendela dunia. Melalui buku, orang-orang akan melongok ke dunia lain; dunia yang sama sekali berbeda dengan apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, buku juga meluaskan cakrawala pengetahuan atau pemikiran orang yang membacanya.

Para pendiri bangsa ini adalah orang-orang yang tekun dalam membaca buku. Dua bung besar yaitu Bung Karno dan Bung Hatta, bung kecil yakni Bung Sjahrir, serta pahlawan yang terlupakan, Datuk Tan Malaka, adalah sosok pembaca buku teladan yang sulit dicari bandingannya hingga kini.

Catatan ini akan mengkhususkan pada Soekarno dan buku-bukunya. Sebab, dalam waktu dekat, tepatnya pada Selasa (24/11), akan digelar pembukaan pameran daring sekaligus dialog sejarah bertajuk Bung Karno dan Buku-bukunya. Acara ini akan dihadiri Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, dan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid.

Adapun yang menjadi pembicara dalam dialog sejarah ini di antaranya sejarawan sekaligus pemimpin redaksi Historia Online Bonnie Triyana, sejarawan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri, jurnalis senior Roso Daras. Sementara Audrey Chandra didapuk menjadi moderator dialog sejarah.

Izinkan saya memakai perumpamaan bahwa Soekarno dan buku adalah ibarat dalang dengan wayang. Di tangan Soekarno, isi dalam buku-buku itu bisa digerakkan, "dihidupkan", seperti halnya dalang dengan wayangnya. Di tangan Soekarno, buku bukan lagi benda mati. Pemikiran-pemikiran yang tergurat dalam buku menjadi pelita bagi langkah dan pemikirannya untuk membangun bangsanya.

Ketika Soekarno remaja, saat dunia di sekelilingnya terasa hampa dan gelap, ia masuk ke dalam—menyitir ucapan orang Inggris—dunia pemikiran. Ihwal ini tertuang dalam buku Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia yang ditulis Cindy Adams, wartawati AS, yang dialihbahasakan oleh Mayor Abdul Bar Salim (1966).

Maka, mari jadikan membaca buku masa pandemi sebagai kegiatan rohani. Ada pergulatan di sana. Seperti halnya Soekarno, generasi saat ini bisa becermin, bahwa lewat membaca buku, kita bisa sedikit bergembira. Semoga.
 

EDITOR

Dian Wahyu Kusuma

loading...




Komentar


Berita Terkait