#KURIKULUMMERDEKA

Soal Kurikulum Merdeka, Ini Kata Pengamat Pendidikan Unila

Soal Kurikulum Merdeka, Ini Kata Pengamat Pendidikan Unila
Ilustrasi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pengamat Pendidikan Universitas Lampung (Unila) M Thoha B Sampurna Jaya mengatakan perlu mempertimbangkan penerapan kurikulum merdeka belajar di usia pendidikan dasar yakni SD dan SMP.

Dia mengatakan sebagian besar daerah Indonesia di pedesaan atau pinggiran, anak-anak ikut membantu orang tua dalam hal mencari nafkah. "Tapi di sisi lain akan bersentuhan dengan masalah UU Ketenagakerjaan, kemudian berkaitan tentang Komisi Nasional untuk Perempuan dan Anak (Komnas PA)," kata Thoha, Minggu, 16 Oktober 2022.

Dikarenakan bersentuhan dengan dua hal tersebut, menurut Thoha harus dipertimbangkan  memberi peluang belajar secara merdeka tanpa kenal ruang dan waktu bagi anak-anak yang terpaksa bekerja.

"Perlu berhati-hati dalam menyusun kurikulum terutama pendidikan dasar menengah bagi mereka yang relatif tumbuh dan berkembang," kata dia.

Menurutnya dalam proses tumbuh dan berkembang, anak-anak memerlukan satu proses yang bersifat kontinuitas dan permanen.

"Nah kalau dengan kurikulum merdeka yang bisa melakukan kapan saja bisa belajar terlepas dari ruang dan waktu, dikhawatirkan menimbulkan image sekolah itu hanya sebagai sambilan," kata dia.

Karena image tersebut ia takut bisa mengacak kurikulum dalam konteks proses pertumbuhan dan perkembangan anak didik. "Kalau untuk yang dewasa di perguruan tinggi no problem (belajar sambil bekerja), tapi untuk pendidikan dasar harus hati-hati. Jadi itu harus dipertimbangkan, karena mempekerjakan anak di bawah umur juga kena undang-undang," kata dia.

EDITOR

Deni Zulniyadi


loading...



Komentar


Berita Terkait