#kesehatan#skm#gizi

SKM Bukan untuk Pemenuhan Gizi

SKM Bukan untuk Pemenuhan Gizi
Susu kental manis (SKM) ternyata tak ada kandungan susunya. (Ilustrasi/Lampost/Zainuddin)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Kontroversi seputar susu kental manis (SKM) yang tidak memiliki kandungan susu, belakangan menjadi perhatian masyarakat. Padahal, selama ini, tidak sedikit masyarakat yang menjadikan SKM sebagai asupan susu pelengkap nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Terkait hal tersebut, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Perwakilan Lampung Syamsuliani menyarankan masyarakat harus lebih teliti dan cerdas sebelum membeli makanan atau minuman. Sebab, kata dia, di kaleng SKM sebetulnya jelas tertera bahwa produk tersebut bukanlah susu, melainkan penambah rasa makanan, seperti topping, hingga campuran es. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tidak terkecoh dengan penamaan label susu yang sudah melekat pada produk SKM.

"SKM sudah ada labelnya dan jelas peruntukanya, tidak untuk anak di bawah 12 bulan atau balita. Dan telah disepakati bawah iklan tidak tayang pada jam acara anak-anak," kata dia, Rabu (11/7).

Syamsuliani menekankan SKM bukanlan produk susu yang bisa digunakan sebagai pemenuhan asupan kebutuhan gizi susu, terutama untuk bayi dan balita. Nutrisi yang terkandung dalam SKM tidak memenuhi kandungan nutrisi susu setara dengan susu yang seharusnya menjadi asupan kebutuhan gizi seseorang. Selain itu juga tertera usia yang disarankan untuk meminum SKM, yakni tidak disarankan untuk bayi dan balita, meskipun selama ini iklan SKM kerap menampilkan anak-anak sebagai pemerannya.

Terkait polemik SKM, menurut Syamsuliani, pihaknya tengah menunggu keputusan dan arahan dari BPOM Pusat, termasuk dengan penayangan iklan, komposisi, dan penamaan produk SKM.

"Saat ini kami sedang menunggu arahan dan instruksi dari pusat, nanti teknisnya seperti apa segera kami sampaikan, kemungkinan dalam minggu-minggu ini," ujarnya.


Perlu Cermat

Syamsuliani menekankan masyarakat harus lebih cermat dan cerdas sebelum membeli produk makanan dan minuman yang akan dikonsumsi, terlebih untuk keluarga. Mengecek label yang biasanya menampilkan kandungan produk, menjadi salah satu cara. Selain itu, jika menemukan masalah terkait makanan dan minuman, masyarakat juga diimbau langsung melaporkan kepada BPOM setempat.

Sementara itu, sesuai dengan edaran BPOM pusat tentang adanya larangan pelabelan, menurut Syamsuliani, produsen SKM kini dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah usia lima tahun dalam bentuk apa pun dan memakai visualisasi bahwa produk SKM setara dengan produk susu lain.

"SKM hanya untuk hidangan tertentu sebagai pelengkap, namun kriteria visualisasi yang sudah diberikan BPOM dalam iklan dilanggar," ujarnya.

EDITOR

Nur Jannah

loading...




Komentar


Berita Terkait