#Iskandar-Zulkarnain#Lampost-Weekend#Novel-Corona-Virus#refleksi

Sincia di Wuhan

( kata)
Sincia di Wuhan
Ilustrasi Pixabay.com

PERAYAAN Imlek atau Tahun Baru Tionghoa (China) tahun 2571 yang jatuh 25 Januari 2020 terasa tidak mengenakkan. Mengapa? Karena berita horor–virus pneumonia menyebar yang akan menewaskan penduduk seisi dunia. Jika virus korona tipe baru (2019-novel corona virus/nCoV) tidak dicegah,  akan kalang kabut dibuatnya.

Virus mematikan itu pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Tiongkok.  Warga yang mendiami kota berpenduduk 11 juta jiwa itu dilarang pergi tanpa alasan khusus. Sementara mereka akan berliburan akhir pekan untuk merayakan Tahun Baru Imlek (Sincia, bahasa Hokkian) Sabtu (25/1).

Tiongkok menempatkan Wuhan di bawah karantina sejak Kamis (23/1), guna menangkal penyebaran virus misterius mematikan. Otoritas negeri panda menangguhkan jadwal penerbangan seluruh maskapai. Termasuk operasional bus umum serta kereta api yang ke luar kota dihentikan guna mencegah penyebaran penyakit menular tersebut.

Virus korona tersebut sudah menewaskan 17 orang. Penyakit pernapasan sudah terdeteksi menyebar ke daerah lain di Tiongkok, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, dan Jepang. Perayaan Sincia kali ini menjadi waswas karena pengunjung yang keluar dan masuk dari negara-negara itu diawasi ketat.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan penduduk Asia bahwa virus korona berasal dari famili yang sama dengan sindrom pernapasan akut berat (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS). Kedua penyakit itu pernah menjadi berita menakutkan Asia. Penyebaran korona memiliki pola dan kecepatan yang sama dengan dua keluarganya tadi.

Penyebaran virus baru korona sangat cepat. Penyakit yang ditemukan 31 Desember 2019 ditularkan di antara manusia melalui saluran pernapasan yang menyebar–meluas hingga ke negara tetangga. Sama seperti SARS dan MERS. Sebagai renungan, virus SARS yang ditemukan pada 2002–dalam setahun yakni Juni 2003 sudah menewaskan 775 orang dari 8.069 kasus.

Kabar baru dari Tiongkok, virus korona sudah lebih 570 orang  terinfeksi penyakit itu. Sebagian besar dataran Tiongkok ditemukan virus mematikan. Wuhan–tempat pertama kali virus menyebar. Tepatnya di pasar makanan laut yang menjual hewan liar ilegal diidentifikasi jadi pusat penyebaran.

Karena virus korona, hari ini Tiongkok menjadi perhatian dunia. Sejumlah media secara masif memberitakan–mengantisipasi agar virus baru tidak menyebar ke mana-mana. Untuk Tanah Air, pemerintah memperketat pengawasan di 19 pintu masuk yang memiliki akses langsung Tiongkok.

Pengawasan ekstra dilakukan dengan menyediakan logistik dan tenaga kesehatan untuk mengantisipasi adanya suspect virus korona.

Pintu masuk ke negeri ini berada di Jakarta, Tangerang, Lampung, Padang, Tarakan, Balikpapan, Manokwari, Sampit, Bandung, Jambi, Tanjung Balai Karimun, Samarinda, Palembang, Tanjung Pinang, Denpasar, Surabaya, Batam, Bitung,  Manado. Sebanyak 195 pemindai suhu tubuh disiagakan di 135 pintu masuk yang dilengkapi alat pelindung  petugas.

Negeri ini harus ekstra ketat karena setiap hari sedikitnya ada 5.000 orang datang dari Tiongkok yang masuk melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Apa yang harus diperbuat Indonesia agar virus dari negara Tirai Bambu itu tidak menyebar?

Memasang alat pemindai suhu tubuh dan menyiapkan ruang isolasi bagi penumpang terinfeksi virus korona. Paling penting adalah siaga 100 rumah sakit rujukan yang akan melayani pasien suspect .

***

Akibat virus korona itu, dunia bersikap! Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendesak semua negara melakukan pencegahan lewat fasilitas kesehatan. Kata juru bicara WHO Tarek Jasarevic, virus korona itu bisa meluas. Bahkan, Tiongkok sendiri sudah mengedepankan penyebaran informasi secara komprehensif sebagai upaya pencegahan dan pengendalian.

Bagaimana nasib warga negara Indonesia (WNI) yang berdiam di Tiongkok, terutama di Wuhan? Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tegas menyatakan belum ada laporan WNI yang menjadi korban terinfeksi virus korona.

KBRI Beijing per Desember 2019 mencatat, mahasiswa Indonesia yang belajar di Wuhan dan sekitarnya sebanyak 428 orang. Di Beijing 1.280 orang, serta Kota Shanghai 849 orang.

Laporan dari Beijing, mulai Kamis (23/1),  semua operasional transportasi publik dalam kota—keluar dan ke arah Wuhan— ditangguhkan sampai 31 Maret mendatang oleh Pemerintah Tiongkok. Wuhan berduka! Karena warga Tionghoa tidak bisa menikmati liburan Sincia tahun ini.

Padahal Sincia penuh makna bagi rakyat Tiongkok. Sincia adalah wujud budaya dari etika kehidupan yang diturunkan nabinya bernama Konghucu. Selain dimaknai sebuah perayaan keagamaan, Sincia diyakini sebagai perayaan kebudayaan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Mengapa? Karena di Tiongkok, pada saat Imlek dirayakan, berakhirnya musim dingin menuju musim semi. Pergantian musim itu menandai  waktu untuk menentukan posisi bulan terhadap bumi. Sebuah peradaban ilmu pengetahuan yang sangat tinggi dan mumpuni untuk anak manusia.

Banyak hal yang harus dipelajari di Tiongkok. Itu mengapa 2.557 anak bangsa dari Indonesia menekuni ilmu pengetahuan di Tiongkok. Kata Nabi Muhammad saw, uthlubul ilma walau bishin (carilah ilmu sampai ke China). Walau hadis itu derajatnya dinilai lemah oleh sebagian ulama,  patut diambil maknanya.

Tiongkok unggul dalam peradaban ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Bangsa itu juga sukses membuat uang koin dari besi pada tahun 200 sebelum Masehi (SM). Dengan bangga, mereka juga mempersembahkan tembok yang panjangnya ribuan kilometer guna mempersatukan Tiongkok.  Tembok itu kini masih berdiri kokoh yang dibangun pada tahun 100 SM.

Kemegahan peradaban itu bisa disaksikan. Termodern dan canggih. Dua bangunan top bertengger di Tiongkok, yakni Shanghai Tower, gedung pencakar langit tertinggi kedua dunia. Dan jalan tol yang dibangun di atas lautan sepanjang 32 kilometer yang membelah laut di Tiongkok Timur.

Kesuksesan beradab pada ribuan tahun lalu itu menjadikan perayaan Imlek 2020 sebagai ajang refleksi dan ruang persaudaraan bagi dua bangsa yang bersaudara. Keragaman budaya, kepercayaan, serta kekayaan harus disyukuri warga Tionghoa yang memilih tinggal di Indonesia.

Perayaan Imlek menginspirasi dan menjadi kemandirian untuk kekuatan bangsa. Sincia diajarkan Konghucu–penuh kesantunan dan kekeluargaan guna mampu membangun relasi sosial di tengah krisis global. Jadikanlah Imlek untuk merekatkan keberagaman dan memperkuat Indonesia satu.  ***

 

EDITOR

Bambang Pamungkas

loading...

Berita Terkait

Komentar