#beritalampung#beritabandarlampung#cpns

Sidang Kecurangan CPNS Pringsewu: Peserta Mengaku Dibantu Joki, Kursor Laptop Bergerak Sendiri

Sidang Kecurangan CPNS Pringsewu: Peserta Mengaku Dibantu Joki, Kursor Laptop Bergerak Sendiri
Para saksi saat memberikan keterangan di persidangan kasus kecurangan penerimaan CPNS Pringsewu. Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co): Sidang kecurangan tes penerimaan CPNS Tahun Anggaran 2021 pada Pemerintah Kabupaten Pringsewu, kembali bergulir di PN Kelas IA Tanjungkarang, Selasa, 19 September 2022.

Para pelaku yakni Indra Gunawan (35) warga Yogyakarta, M. Rizki Alam (24) warga Sukarame, dan M. Reza Akbar (26) warga Sukarame. Tiga orang tersebut terlibat kecurangan tes SKD CPNS dengan titik lokasi di SMK Yadika, Pagelaran, Pringsewu. 

Kemudian, Indra Gunawan kembali terlibat bersama dua pelaku lainnya di titik lokasi Makorem yakni, Al-Asyir Natahaga (27) warga Bandar Lampung dan Agus Sudrajat (29) warga Metro. Selain eks kepala BKSPDM Pringsewu, Ani Sundari, beberapa saksi peserta yang dibantu oleh para tersangka juga dihadirkan dalam persidangan.

Berita terkait: Sidang Joki CPNS, Eks Kepala BKPSDM Pringsewu Bantah Fasilitasi Kecurangan Tes SKD

Salah satu peserta, yakni Reni Puspita Sari mendaftar untuk formasi kebidanan di Kabupaten Pringsewu. Pada saat tes September 2021, ia pun meraih nilai tinggi yakni 459 dan dinyatakan lulus SKD, meski akhirnya didiskualifikasi.

"Saya hanya mengerjakan setengahnya saja," kata Reni di persidangan.

"Apa kamu dibantu sama terdkawa," tanya JPU Kandra Buana.

"Iya benar, dikumpulin di rumah," jawab Reni.

"Pada saat kamu mengerjakan soal, ada itu kursor bergerak sendiri (dikerjakan Joki), " tanya Kandra.

"Iya (sambil mengangguk)," jawab Reni.

"Tahu siapa yang ngerjain ?" tanya Kandra.

"Tidak tahu. Tapi saya memang diarahkan duduk dibangku deretan satu sampai tiga," jawab Reni.

Sementara, suami Reni yakni Riska Darmawan mengaku mengetahui jalur kecurangan tersebut karena diarahkan oleh seseorang bernama Sukiman yang ia temui saat pulang dari Pulau Jawa menaiki kapal Feri. Ia mengaku diminta Rp250 juta, meski pada saat proses tersebut uang belum diserahkan karena para peserta didiskualfikasi.

"Kenal sama Pak Sukiman ini di kapal, ngobrol-ngobrol aja," katanya.

Senada, peserta lainnya yakni Dwi Oktaria mengaku dibantu oleh para terdakwa lewat metode remote acces dan diminta uang Rp300 juta agar dibantu saat tes, meski uang belum diberikan ke komplotan tersebut.

Saat tes, ia mengaku awalnya mengerjakan sendiri. Namun setelah setengah jam, kursor pun bergerak sendiri karena dikerjakan oleh para Joki.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait