#seni#budaya

Sharing Time: Megalitic Millennium Art Hadirkan Penggiat Seni dan Budaya Dunia

( kata)
Sharing Time: Megalitic Millennium Art Hadirkan Penggiat Seni dan Budaya Dunia
Ilustrasi.Dok

Panaragan (Lampost.co) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulangbawang Barat (Tubaba) siap menggelar event seni dan budaya bertaraf internasional Sharing Time: Megalitic Millennium Art pada 22—26 Januari 2020 mendatang. Kegiatan yang akan dipusatkan di Kota Budaya Ulluan Nungik (rumah adat Lampung dan Kampung Baduy), Berugo Cottage, dan Las Sengok tersebut direncanakan dihadiri sejumlah arkeolog dunia.

Kegiatan menitikberatkan, merefleksikan persoalan manusia, lingkungan, dan masa depan sebuah kota (budaya dan lingkungan). Kegiatan ini mulanya digagas almarhum Suprapto Suryodarmo, seorang seniman nasional, empu tari (joget Amerta) yang disegani di Indonesia, saat berkunjung ke Tubaba pada April 2019 lalu bersama murid-muridnya dari Spanyol dan Hongaria dan merupakan hasil perbincangan dengan Bupati Tubaba Umar Ahmad.

Saat itu mereka juga mengajak murid-murid Sekolah Seni Tubaba untuk latihan joget Ameta di Ulluan Nughik (Rumah Baduy). Almarhum Mbah Prapto pun sempat membuat showcase di Berugo Cottage bersama Alexander Gebe dan Edhitiya Rio.

Bupati Tubaba Umar Ahmad mengatakan kegiatan Sharing Time: Megalitic Millenium Art menitikberatkan pada kebudayaan dan lingkungan melalui pertunjukan, sarasehan, dan workshop dengan membahas konsepsi masa depan dan pembangunan Kota Tubaba.

"Kami berharap masyarakat Tubaba terlibat aktif dalam setiap rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan ini," ujarnya.

Sementara Direktur Sharing Time: Megalitic Millenium Art, Semi Ikra Anggara menyatakan pihaknya akan melibatkan seluruh masyarakat dan para pelajar di Tubaba. "Rabu ini kami akan rapat bersama sejumlah SKPD, Dinas Pendidikan dan sekolah-sekolah membahas strategi sosialisasi kegiatan ini hingga ke tingkat bawah. Materinya apa saja dan masyarakat tertariknya ke mana. Kami juga telah mengirim surat ke seluruh kepala tiyuh untuk turut aktif dalam kegiatan ini," ujarnya, Senin, 6 Januari 2020.

Semi menjelaskan kegiatan ini mengangkat tema megalitic lantaran konsepsi tersebut punya kandungan lingkungan, ketuhanan, dan kemanusiaan sehingga indikator megalitic bukan hanya kepada batu (arkeolog). "Maksud konsep kegiatan ini, manusia dan seni sekarang ini tetap dipengaruhi pikiran megalitic," katanya.

Event ini, kata Semi, akan dibagi ke dalam tiga kategori, yakni sarasehan, workshop, dan pertunjukan. Diharapkan dari ketiga kategori acara tersebut setiap penyaji dan audiens bisa saling berbagi dan saling menginspirasi.

Direncanakan remaja Tubaba juga akan menjadi pembicara dalam salah satu sarasehan tentangbagaimana kota yang ideal di masa depan menurut pendapat kaum millenial. "Bahkan para pelajar juga kami undang dan membuat makalah bagaimana konsep pembangunan Tubaba. Sebab, pembangunan Tubaba ini bukan hanya dilakukan pemerintah tapi juga bisa lewat perspektif hasil pemikiran masyarakat dan pelajar," ujarnya.

Kegiatan ini akan dihadiri penggiat seni, budaya, dan arkeolog, yakni Andy Burnham (Inggris) dan Keith Miller dari Inggris, Peter Chin (Kanada), Diane Butler, Ari Rudenko, Margit Galanter, Frances Rosario, dan Mara Poliak dari Amerika Serikat, Serta Betina Mainz, Rudolfo Mertig, Sebastian Mainz Mertig, dan Anna Thu Schmidt dari Jerman.

Sedangkan dari Indonesia akan hadir Rianto, Dian Angraeni, Halilintar Latief (Makassar), Rizaldi Siagian (Jakarta), Transpiosa Riomandha (Yogyakarta), Daniel Oscar Baskoro (New York/Yogyakarta), Alexander Gebe (Lampung), Edyitia Rio, Gar Dancestory, Haris Sukendar, Rizaldi Siagian, Rumah Tari Sangisu, dan Sandrayati Fay. 

"Pejabat negara yang rencananya hadir adalah Hilmar Farid (dirjen Kemendikbud Republik Indonesia), sementara Duta Besar Denmark, Rasmus Kristensen, diundang untuk berbagi tentang keberhasilan negarnya dalam mengembangkan teknologi terbarukan," kata dia.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...

Berita Terkait

Komentar