#SetitikAir#LampungPost#Wanita

SETITIK AIR: Wanita

SETITIK AIR: Wanita
Wanita muslim. kompas.com


ALKISAH dua insan berlainan jenis, seorang wanita gaul dan seorang pemuda saleh, pada suatu kesempatan bertemu dan bercakap-cakap. Sang wanita gaul itu pun kemudian bertanya kepada pemuda yang saleh tersebut.
“Kenapa sih kamu enggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?"
Sang pemuda menjawab, "Bukan begitu, Mbak, justru saya melakukan itu karena saya sangat menghargai Mbak sebagai seorang wanita."
Wanita itu kembali bertanya, "Maksudmu?"
"Begini, coba sekarang saya tanya sama Mbak, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan seorang putri keraton yang dimuliakan?" ujar pemuda itu.
Wanita itu pun mengernyitkan dahi dan menjawab, "Te..Tentu enggak boleh sembarangan dong!"
Pemuda melanjutkan, "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita layaknya putri keraton yang diceritakan tadi. Hanya pangeran yang layak menyentuh tuan putri.”
Sambil tersipu malu sang wanita gaul itu berkata, "Oh.... Terus kenapa sih mesti pakai menutup tubuh segala, pakai kerudung lagi, jadi enggak kelihatan seksinya."
Lalu pemuda itu membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan dua buah rambutan itu pada wanita tersebut seraya berkata, "Kalau Mbak harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka?"
Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik, sang wanita berkata, "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuhlah, mana mau saya makan bekas Mas."
Dengan tersenyum, pemuda itu berkata, "Tepat sekali, semua orang pasti memilih yang utuh, bersih, terjaga. Begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan wanita juga."
Dengan tersipu wanita berkata, "Terima kasih ya, aku makin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita. Subhanallah. Ngomong-ngomong, Mas sudah punya pacar belum?"
Pemuda itu menjawab, "Mmm... Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."
Sang wanita pun kebingungan. "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa."
Pemuda kembali balik bertanya, "Begini, Mbak, kira-kira kalau Mbak diberi hadiah ponsel, ingin yang bekas atau yang masih baru?"
Wanita itu segera menjawab, "Ya jelas yang barulah."
Pemuda itu bertanya kembali, "Kalau suatu saat Mbak menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp50 ribu/tiga potong atau gaun istimewa yang harganya Rp20 juta ke atas?"
Wanita tegas menjawab, "Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. Hi...."
"Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mbak. Kami diajarkan untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. Menjadi pasangan yang saling mencintai karena-Nya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum akad suci itu terucap. Sebab, kami hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk pasangan kami kelak," ujar pemuda itu.
Mendengar penjelasan tersebut, hati wanita itu berdebar-debar tidak menentu. Kata-kata pemuda tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Air matanya pun menetes.
"Mas, aku makin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu tobat untukku dengan semua yang sudah aku lakukan?"
Dengan mata berbinar, pemuda itu berkata, "Mbak, jika diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus, kebahagiaan Allah menerima tobat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah."
Dengan air mata berderai yang segera diusapnya dengan tisu, wanita itu berkata, "Terima kasih, Mas, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya bisa berubah lebih baik.”

“Aamiin.....,” pungkas pemuda itu. n

 

EDITOR

Isnovan Djamaludin, wartawan Lampung Post

loading...




Komentar