#nuansa#SETITIKAIR#LampungPost#Racun

SETITIK AIR: Racun Penyemangat Hidup

SETITIK AIR: Racun Penyemangat Hidup
Racun. assets.kompas.com


ALKISAH, seorang pria mendatangi seorang sufi yang diseganinya. “Tabib, saya bosan hidup. Rumah tangga berantakan. Usaha kacau. Saya ingin mati saja.”
Sang sufi pun tersenyum. “Oh, kamu pasti sedang sakit dan penyakitmu pasti bisa sembuh.”
“Tidak, Sufi, tidak. Saya sudah tidak ingin hidup lagi, saya ingin mengakhiri hidup saya ini saja,” ujar pria itu.
“Baiklah kalau memang itu keinginanmu. Ambil racun ini. Minumlah setengah botol malam ini, sisanya besok sore jam enam. Jam delapan malamnya engkau akan mati dengan tenang.”
Pria itu pun kebingungan. Sebab, dia berpikir setiap sufi yang ia pernah datangi selalu memberikan semangat hidup. Tapi, sufi yang ini sebaliknya dan justru menawarkan racun.
Sesampainya di rumah, ia minum setengah botol racun yang diberikan sufi tadi. Ia memutuskan makan malam dengan keluarga di restoran mahal dan memesan makanan favoritnya yang sudah lama tidak pernah ia rasakan. Untuk meninggalkan kenangan manis, ia pun bersenda gurau dengan riang bersama keluarga yang diajaknya. Sebelum tidur pun, ia mencium istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu.”
Besok paginya, dia bangun tidur, membuka jendela kamar dan melihat pemandangan di luar. Tiupan angin pagi yang menyegarkan tubuhnya, menggodanya untuk jalan pagi.
Pulang ke rumah, dia mendapati istrinya masih tidur. Ia pun membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya dan satunya untuk istrinya.
Istrinya yang merasa aneh kemudian dengan terheran-heran bertanya, “Sayang, apa yang terjadi? Selama ini, mungkin aku ada salah ya. Maafkan aku ya sayang?”
Kemudian si pria itu pergi ke kantornya dan menyapa setiap orang. Stafnya pun sampai bingung, “Hari ini bos kita kok aneh, ya?”
Si pria itu menjadi lebih toleran, apresiatif terhadap pendapat yang berbeda. Ia seperti mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam lima sore, ternyata istrinya telah menungguinya. Sang istri menciumnya. “Sayang, sekali lagi mohon maaf kalau selama ini aku selalu merepotkanmu.”
Demikian halnya dengan anak-anaknya yang berani bermanjaan kembali padanya.
Tiba-tiba, ia merasa hidup begitu indah. Ia mengurungkan niat untuk bunuh diri. Tetapi, bagaimana dengan racun yang telanjur sudah diminumnya?
Bergegas ia mendatangi sang sufi dan bertanya cemas mengenai racun yang telah sebelumnya ia minum kemarin.
Sang Sufi dengan enteng mengatakan, “Buang saja botol itu. Isinya hanyalah air biasa kok. Dan, saya bersyukur bahwa ternyata kau sudah sembuh.”
“Bila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini. Maka leburkan belenggu egomu. Satu kata untukmu, “bersyukurlah”. Karena itulah rahasia kehidupan sesungguhnya. Itulah kunci kebahagiaan dan jalan menuju ketenangan. n

EDITOR

Isnovan Djamaludin, wartawan Lampung Post


loading...



Komentar