#internasional#beritainternasional

Seruan Akhiri Perang Korea Dianggap Terlalu Dini

Seruan Akhiri Perang Korea Dianggap Terlalu Dini
Korea Utara secara aktif masih terus melakukan uji coba rudal yang mengancam stabilitas kawasan. Foto: AFP


New York (Lampost.co) -- Korea Utara (Korut) menimpali seruan Korea Selatan (Korsel) untuk menyatakan berakhirnya Perang Korea secara resmi. Mereka menanggap hal itu terlalu dini karena tidak ada jaminan akan mengarah pada penarikan kebijakan bermusuhan AS terhadap Pyongyang.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengulangi seruan untuk mengakhiri Perang Korea secara resmi dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB. Moon mengusulkan agar kedua Korea dengan Amerika Serikat, atau dengan Amerika Serikat dan Tiongkok, membuat perjanjian semacam itu.

Pada dasarnya, kedua Korea secara teknis masih berperang setelah konflik 1950-1953. Perang antara keduanya berakhir dengan gencatan senjata dari pada perjanjian damai.

“Tidak ada yang akan berubah selama keadaan politik di sekitar DPRK (nama remis Korea Utara) tetap tidak berubah dan kebijakan bermusuhan Amerika Serikat tidak diubah. Meskipun penghentian perang dinyatakan ratusan kali," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Ri Thae Song, dilansir media pemerintah Korea Utara KCNA, yang dikutip AFP, Jumat 24 September 2021.

"Penarikan AS dari standar ganda dan kebijakan bermusuhan adalah prioritas utama dalam menstabilkan situasi semenanjung Korea dan memastikan perdamaian di atasnya,” tegas Ri.

Presiden AS Joe Biden berpidato di depan majelis PBB dan mengatakan Amerika Serikat menginginkan diplomasi berkelanjutan untuk menyelesaikan krisis seputar program nuklir dan rudal balistik Korea Utara.

Korea Utara menolak tawaran AS untuk terlibat dalam dialog dan kepala pengawas atom PBB mengatakan minggu ini program nuklir Pyongyang akan berjalan penuh.

Uji coba rudal balistik Korea Utara dan Korea Selatan pekan lalu, tembakan terakhir dalam perlombaan senjata di mana kedua negara mengembangkan senjata yang semakin canggih di tengah upaya sia-sia untuk memulai pembicaraan guna meredakan ketegangan.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait