#KejahatanSeksual#ReynhardSinaga

Sepak Terjang Reynhard Sinaga, WNI Pemerkosa Berantai di Inggris

Sepak Terjang Reynhard Sinaga, WNI Pemerkosa Berantai di Inggris
Reynhard Sinaga didakwa melakukan tindakan pemerkosaan. Foto: BBC


Manchester (Lampost.co) -- Sekilas tidak ada yang spesial dari sosok Reynhard Sinaga. Tetapi siapa menyangka jika dirinya gemar memangsa pria di tengah malam.

Berusia 36 tahun, dia jelas lebih tua dari sebagian teman kuliah. Dengan fitur kekanak-kanakan, tubuh kurus dan rambut terbelah rapi, ia tidak terlalu menonjol.

Mahasiswa jurusan geografi Universitas Leeds, itu diketahui memiliki beberapa teman dekat tetapi mereka yang mengenalnya sadar bahwa dia adalah sosok yang religius. Sudah 12 tahun dia berdomisili di Inggris dan tinggal di Manchester.

Ada sikap kelam yang tersembunyi dari pria yang masih warga negara Indonesia (WNI) itu. Namun banyak yang mengetahui bahwa mahasiswa yang tampaknya religius dan sopan ini menyembunyikan kehidupan ganda yang mengerikan. Pada malam hari, Reynhard Sinaga adalah seorang pemerkosa berantai dan penyerang seks yang menyusuri jalanan kota Manchester.

Polisi pada Januari 2020 mengatakan, Reynhard membius korbannya. Ketika korban tidak sadarkan diri, dia pun mulai melakukan serangan seksual. Banyak di antara korban adalah siswa berusia 18 dan 19 tahun.

Tetapi jumlah korban ulah Reynhard diperkirakan bertambah. Berdasarkan penelusuran kepolisian, korban pemerkosaan yang dilakukan oleh Reynhard mencapai 206 orang.

“Polisi sekarang yakin Reynhard melakukan pelanggaran seksual terhadap 206 pria,” laporan polisi, seperti dikutipBBC, Sabtu 12 Desember 2020.

Perilakunya yang tak bisa diterima sehingga kini dirinya sebagai pemerkosa paling produktif yang pernah ditangkap di Inggris. Dari 206 korban 60 diantaranya belum teridentifikasi.

Pihak berwenang Inggris pun mengatakan,hukuman penjara minimumnya telah diperpanjangdari 30 menjadi 40 tahun di Pengadilan Tinggi.

Kejahatan pria lulusan Universitas Indonesia itu terungkap setelah hakim mencabut semua pembatasan pelaporan setelah empat persidangan yang membuatnya dihukum atas dakwaan 159 pelanggaran seksual terhadap 48 pria. Kejahatannya berlangsung antara Januari 2015 dan Juni 2017.

Korban beragam

Di antara korbannya adalah laki-laki normal dan homoseksual, mahasiswa, profesional dan hingga satu anggota militer Inggris (RAF). Usia mereka berkisar antara 18 hingga 35 tahun. “Satu orang diperkosa delapan kali dalam delapan jam saat kondisinya tidak sadar. Satu korban lainnya masih di perguruan tinggi ketika dia diserang,” jelas pihak kepolisian.

Semua korban Reynhard ditargetkan ketika mereka sendirian, mabuk dan rentan selama malam di pusat kota Manchester.

Dia bersikap manis dengan korban, memikat mereka kembali ke apartemen pusat kota dengan janji minuman keras gratis, pesta setelah atau, dalam banyak kasus, menawarkan untuk pengisi daya telepon. Lalu, polisi yakin, Reynhard memasukan minuman korban dengan obat GHB yang dikenal sebagai obat digunakan oleh para pemerkosa.

Jalani persidangan

Berdasarkan keterangan tertulis Direktur Perlindungan WNIKementerian Luar NegeriJudha Nugraha yang diterima Medcom.id, Senin 6 Januari 2020, proses persidangan Reynhard telah berlangsung dalam empat tahap.

Dalam persidangan Januari, hakim memutuskan hukuman masa tahanan selama 30 tahun. Dalam sidang tahap 1-4, Reynhard telah dinyatakan terbukti bersalah atas 159 dakwaan.

Hakim merinci dakwaan Reynhard, yakni tindakan pemerkosaan sebanyak 136 kali, usaha pemerkosaan delapan kali, kekerasan seksual 13 kali dan kekerasan seksual dengan penetrasi dua kali.

"Perlindungan hukum yang dilakukan KBRI London dalam bentuk memastikan RS mendapat pengacara, dan juga mendampingi selama rangkaian persidangan. Pelindungan non-litigasi dilakukan dalam bentuk kunjungan kekonsuleran selama RS di penjara, dan memfasilitasi pertemuan serta komunikasi keluarga dengan RS dan pengacara," ujar Dir PWNI Kemenlu RI.

"Semua perlindungan diberikan untuk memastikan RS mendapatkan hak-haknya secara adil dalam sistem peradilan setempat," sambungnya.

Reynhard tiba di Inggris pada 2007 untuk mengambil studi master (S2) di Universitas Manchester. Ia kemudian mengambil studi doktoral dalam bidang geografi manusia di Universitas Leeds.

Tanpa penyesalan

Reynhard Sinaga memenuhi pemberitaan setelah divonis hukuman seumur hidup di Inggris, usai memperkosa ratusan pria. Pihak kepolisian yang menangkap Reynhard menjelaskan sikap pria berusia 36 tahun itu.

Kepolisian Manchester menjelaskan bahwaReynhardberasal dari Indonesia dengan orangtua yang tidak menyetujui orientasi seksualnya.

 

“Reynhard terobsesi diri sendiri, angkuh, delusional. Itu adalah sifat-sifat yang mendefinisikan pemerkosa berantai,” ujar pihak kepolisian.

Itu adalah menurut polisi yang menangkapnya dan hakim yang memvonisnya penjara seumur hidup, karena membius dan memperkosa 48 pria di apartemennya di pusat kota Manchester.

"Dia seorang sosiopat," kata seorang detektif kepadaManchester Evening News, Selasa, 7 Januari 2020, setelah menghabiskan berjam-jam menanyai Reynhard dalam tahanan.

"Selama setiap wawancara dia memberikan tidak ada komentar. Dia tidak menunjukkan penyesalan, tidak ada penyesalan, tidak ada empati, tidak ada simpati,” tegasnya.

Sementara penyelidik senior, Inspektur Zed Ali mengatakan, sosok Reynhard sangat terawat, berbicara dengan lembut dan berpakaian rapi.

"Jadi, jika Anda pernah mencari stereotipe pemerkosa berantai, ia tidak cocok dengan profil itu. Ini yang menurut saya membuatnya berhasil melakukan begitu banyak serangan seksual untuk jangka waktu yang lama dan berada di bawah pengawasan semua orang,” jelas Ali.

Peneliti komunitas gay

Dilahirkan di Jambi, di Indonesia, pada 19 Februari 1983, Reynhard tumbuh dalam keluarga Katolik konservatif yang kaya di Sumatra. Keluarganya cukup kaya untuk mengirim putra mereka ke Sekolah Internasional dan kemudian ke Inggris untuk belajar.

2007 adalah tahun dimana pertama kali lulusan arsitektur Universitas Indonesia tiba di Inggris dengan visa pelajar dan pindah ke Manchester sebagai mahasiswa Sosiologi. Dia kemudian memulai studi untuk gelar PhD di bidang Geografi Manusia di Universitas Leeds.

Pada saat penangkapannya, Reynhard sedang mengerjakan tesisnya, berjudul: 'Seksualitas dan transnasionalisme sehari-hari di pria gay dan biseksual Asia Selatan di Manchester'.

Seorang pria yang terus-menerus menghabiskan waktu untuk belajar, dia memberi tahu teman-teman bahwa dia ingin tinggal di Inggris selama mungkin untuk menghindari kembali ke Indonesia.

Dirinya bahkan meneliti sebuah wilayah gay ternama di Manchester untuk melengkapi studinya. Sepanjang persidangan, dia mengklaim bahwa setiap korban yang diperkosanya, setuju untuk melakukan hubungan badan dengan dirinya.

Di pengadilan Reynhard mengklaim, seluruh korban berpura-pura tidur sebagai bagian dari permainan seksnya. Itu sebabnya dia menolak semua tuduhan dari pengadilan yang dianggap menggelikan.

Seluruh korbannya diidentifikasi heteroseksual. Sementara hanya ada satu orang yang homoseksual, itupun pelaku tetap membius dan memperkosanya.

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait