#korupsi#kejagung

Selalu Mangkir, Kejati Akan Umumkan Tersangka Korupsi PT LJU di Koran

Selalu Mangkir, Kejati Akan Umumkan Tersangka Korupsi PT LJU di Koran
Ilustrasi. Dok. Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Dua tersangka kasus korupsi PT Lampung Jasa Utama (LJU) kembali tidak mengindahkan penyidik Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Lampung.

Keduanya yakni inisial AJU, Direktur utama BUMD pada waktu itu, dan AJY sebagai pihak yang melakukan kerja sama dengan pihak PT LJU. Mereka diduga menyelewengkan pengelolaan keuangan tahun anggaran 2016-2018 di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi Lampung, PT Lampung Jasa Utama (LJU).

Baca juga: Eks Karo Perekonomian Lampung Diperiksa soal PT LJU

Kasipenkum Kejati Lampung, I Made Agus Putra mengatakan, kedua tersangka sudah dipanggil sebanyak dua kali untuk dimintai keterangan sebagai tersangka, namun selalu mangkir. Akan tetapi pihaknya membantah jika terdakwa melarikan diri.

"Mereka tidak hadir dua sampai tiga kali dipanggil. Hasil koordinasi dengan Pidsus akan dilakukan di media masa, panggilan selanjutnya," ujarnya, Rabu, 10 November 2021.

Namun, jika keduanya masih tidak mengindahkan panggilan, Kejati bakal terus melanjutkan berkas perkara keduanya hingga ke persidangan.

"Nanti sidang In absentia," ujarnya.

Made menambahkan, penyidik akan segera merampungkan berkas perkara tersebut hingga ke persidangan

"Berkasnya belum tahap I, dari penyidik dan penuntut," paparnya.

Terkait tidak ditahannya kedua tersangka, ia menyebut penyidik punya pertimbangan secara spesifik, terutama menerka batas penahanan yang diatur dalam KUHAP hingga persidangan nanti.

Kejati Lampung juga belum ada rencana untuk melakukan pencekalan terhadap keduanya.

"Nanti itu pidsus, koordinasi dengan Intel," paparnya.

LBH Kritisi Kinerja Lambat Kejati Lampung

Kadiv Ekosob LBH Bandar Lampung Suma Indra Jawardi menyangkan kinerja Kejati Lampung, sehingga muncul isu keduanya melarikan diri. Padahal dua tersangka sudah diumumkan Kejati Lampung sejak 21 April 2021.

"Penahanan memang kewenangan Kejati, tapi jaksa nya harus cermat menghitung atau menelaah, proses penyidikan, hingga penuntutan, ada hitung-hitungan, dan antisipasi harusnya kalau enggak segera ditahan ada potensi melarikan diri," katanya, Rabu, 10 November 2021.

Indra menduga, Kejati Lampung tidak serius menangani perkara korupsi. Ia mencontohkan keengganan jaksa menahan almarhum Satono, sehingga ia bisa melarikan diri bertahun-tahun.

"Jangan sampai penegakan hukum terhadap tipikor ini main-main, formalitas, kejati harus bentuk tim, segera temukan dan tahan, jangan sampai kabur," papar Alumni Fakultas Hukum Unila itu.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait